Tekla Tirah Liyah: In defense of Kalimantan women


In a remote riverside village in East Kalimantan, one woman is taking on tradition and a patriarchal culture in her struggle to improve the lot of local women.

It takes two days of sailing against the strong currents of Mahakam River to reach Mamahak Tebok village in Long Hubung district in West Kutai regency.
From this village, Tekla Tirah Liyah has, since 1997, been motivating women in the downstream riverside hamlets to fight against gender discrimination and injustice.
The 42-year-old is one of the few women in Kalimantan taking on the patriarchal culture in communities bound by customs.
Tekla, born to Dayak Bahau parents, has frequently proved her willingness to make sacrifices for her cause – not least that she is separated from her husband and children for weeks at a time. But she accepts such sacrifices and challenges as part of the life of an activist.
“Many important decisions involving rural people’s livelihood have come from men, with women playing no part and being subjected to rules that make it hard for them to become leaders,” Tekla says. The upshot of this is that “women have been victimized by such decisions”.
She points out that women were the first victims of the arrival of logging, oil palm plantations and coal and gold mining operations, but had been excluded from the decision-making process allowing such activities.
“The main problem confronting Kalimantan women is the deep-rooted patriarchal culture in all aspects of daily life, which results in gender discrimination, injustice and oppression,” she says.
“The prevailing economic system only turns women into a commodity for exploitation.”
While studying in Samarinda, Tekla, a law graduate of the city’s Widya Gama Mahakam University, realized that women had been subject to considerable injustice; she determined to oppose such discrimination, as it was unlikely the men would do anything on this front.
In 1997, she joined an NGO in Samarinda and chose to work in the downstream villages of the Mahakam River.
She has spent much time in the years since then in a traditional motorboat, cruising along the river and its tributaries to visit nearby hamlets, where she and her peers have informal discussions with local women and girls.
“We listen to their grievances, make them aware of their rights and suggest some alternative solutions,” says Tekla.
The discussions led to the creation of 11 collective business groups, with a total of 250 women as members. Their activities include growing vegetables, raising cattle and making handicrafts.
To make the most of their ideas, in mid-1999 Tekla and several fellow activists set up an NGO called the Perkumpulan Nurani Perempuan (Women’s Conscience Association).
Before founding this organization, women activists held a discussion where they shared their personal experiences in advocacy for community members in East Kalimantan. Through this discussion that realized that in many cases of a violation of communal rights, women’s interests were harmed the most.
“Many NGOs were operating in East Kalimantan in areas such as custom-based communities, human rights, environmental affairs and labor issues,” she says. “But none was dealing specifically with women’s rights.”
Among the issues Kalimantan women facing are the educational gap between men and women, the limited opportunities for women to assume leadership, high maternal mortality, human trafficking, women’s poor access to information, women’s low representation in politics, sociocultural conditions that diminish women’s quality of life and the increasing threat to women posed by mining operations and plantations.
The NGO’s activities include organizing village women, training community organizers, village administrators and communal heads, facilitating business ventures, motivating women, and providing guidance on running a farming business.
In late 2008, it facilitated the supply and plantation of 300,000 rubber trees in 10 villages in West and East Kutai. The project aimed to increase local incomes, restore former forest concession areas and maintain communal land.
But perhaps the NGO’s greatest achievement was the creation of a local financial institute called Petemai Urip Credit Union in April 2002, of which Tekla is executive chair.
As of March this year, the credit union had assets valued at a total of Rp 20 billion. Most notably, all its seven executives, nine of its 13 employees and 2,500 of its 3,500 members are women.
“We made no requirement that they had to be women, but the union’s male members seemed to be aware that the institute was set up and developed by women,” Tekla says.
Tekla is also on the executive board of the Kalimantan Credit Union Coordinating Body (BKCUK), which coordinates 54 credit unions across the country, with total assets of Rp 3.5 trillion and 500,000 members.
To achieve synergy in the Kalimantan women’s movement, Tekla and her peers in the island’s other three provinces organized the first Kalimantan Women’s Congress with 250 participants from different ethnic groups, religions and professions.
At the congress, held in Pontianak in late February, they shared and discussed their experiences and ideas for the development of the women’s movement in Kalimantan, as the first step to strengthen and unify their struggle against gender injustice, discrimination and oppression.
They ended the congress with an eight-point declaration, setting out the need for the consolidation of the women’s movement for peace and justice; advocacy for gender justice and mutual respect among groups; the need for government policies to guarantee justice for women and prevent conflict; free public services for women’s education and reproductive health; the guarantee of community management of resources; and building of women’s capacity to evaluate development programs.
Tekla said she hoped Kalimantan women would become more critical on a wide range of issues, such as the environment, trafficking of women and child, and public administration, and get involved in regional planning and budgets.
“Women should also be politically active, in general, or engaged in practical politics so their rights will not be ignored,” she says.

Sumber berita & foto: thejakartapost.com

Read More......

Pentas Musik dan Tarian Dayak di BBJ


JAKARTA, KOMPAS.com - Selama empat hari, mulai Kamis (10/6/2010), Bentara Budaya Jakarta (BBJ), di Jalan Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat, menampilkan potensi seni- budaya Suku Dayak, Kalimantan Barat. Khusus Kamis, pukul 10.00 -12.00 WIB, digelar demo pembuatan madu ala Dayak. Sore harinya, pukul 17.00-21.00 WIB, ada demo pembuatan tuak. Dilanjutkan dengan pentas musik dan tarian dayak.

Ketua Pengelola BBJ, Paulina Dinartisti mengatakan, anggapan miring tentang orang Dayak akan tertepis lewat gelar budaya ini. "Wujud kegiatan yang digelar berupa pameran asesoris dan hasil kerajinan tangan, kain batik Dayak (tenun dan cetak), cerita rakyat dan permainan rakyat, serta kuliner," ujarnya, Rabu (9/6/2010) di Jakarta.

Hari Jumat (11/6/2010) digelar peluncuran tiga buku yaitu mengenai Oevang Oeray, Gubernur pertama Dayak Kalbar, buku mengenai religiusitas orang Dayak, dan buku tentang religiusitas dan eksotisme orang Dayak Kalimantan Barat.

Selain itu peragaan busana hasil karya Clara Asterina, perancang muda yang menampilkan kain etnis Dayak dalam kemasan yang modern. Ikut tampil, kata Paulina, Adrianus --salah seorang Bupati di Kalbar, beserta istri dan anaknya.

Sumber berita: kompas.com

sumber foto: mediaindonesia.com

Read More......

PAULUS BUNDE, PELESTARI SENI PAHAT DAYAK


Seperti juga di daerah lain, beragam seni tradisi suku Dayak semakin luntur. Tak banyak lagi orang yang melestarikan seni tradisi suku yang mendiami Pulau Kalimantan yang amat beragam itu.

Salah satu dari sedikit orang yang berusaha melestarikan seni tradisi Dayak adalah Paulus Bunde (45), orang asli Dayak kelahiran Kapuas Hulu, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat bagian timur laut yang berbatasan dengan Malaysia.

”Semasa kecil ketika di kampung saya masih sesekali melihat orang-orang tua memahat kayu untuk ukiran peti mati atau lukisan-lukisan Dayak saat gawai adat. Namun, sekarang itu semakin jarang saya lihat,” ujar Bunde. Gawai adat adalah upacara tahunan masyarakat Dayak setelah masa panen.
Bunde lahir di Kampung Belimpis, Desa Belimpis, Kecamatan Balo Hulu yang terkenal dengan rumah betangnya. Belum lama ini rumah betang di Belimpis terbakar habis dalam sebuah musibah.

Memasuki masa remaja, Bunde makin jarang melihat kegiatan-kegiatan berbau seni di kampungnya. Keprihatinan atas terus lunturnya seni tradisi Dayak makin menjadi-jadi ketika dia bertugas di Samarinda, Kalimantan Timur, tahun 1992.

”Di sana saya bertemu dengan orang Jawa yang membuat ukir-ukiran, patung, dan berbagai kerajinan khas masyarakat Dayak,” kenangnya. Dia heran karena ternyata kerajinan itu sangat laris dan bahkan sudah diekspor ke sejumlah negara. ”Saya lebih heran lagi karena dia bukan orang Dayak, sementara saat itu saya tidak bisa menjumpai orang Dayak yang bisa melakukan seperti dia,” kata Bunde.

Berbekal pertemuannya dengan seorang perajin dari Jawa itu, Bunde lalu melakukan riset ke sejumlah daerah pedalaman di Kapuas Hulu. Awalnya Bunde bertemu dengan tetua adat yang masih memiliki kedekatan dengan budaya Dayak. Salah satu tetua yang ditemuinya adalah pemilik kerajinan berbentuk replika sampan perang dan sampan upacara adat.

Bunde kemudian mencoba membuat kedua replika itu. Awalnya dia agak kesulitan membuatnya lantaran memang tidak pernah belajar memahat. Maklum, Bunde adalah seorang sarjana hukum.

Suatu ketika, Bunde bertemu seorang penampung hasil kerajinan asal Malaysia yang membuka usaha di Kuching, ibu kota Negara Bagian Serawak. ”Ternyata replika sampan perang dan sampan upacara adat buatan saya banyak peminatnya di Kuching,” katanya. Penampung hasil kerajinan itu meminta Bunde memproduksi lagi secara rutin, sampai sekarang. Selain replika sampan, Bunde juga masih tetap memasok sejumlah kerajinan khas Dayak berbahan dasar kayu, seperti gitar khas Dayak, kotak tato, dan amben (tas/ransel kayu).

Bunde mengaku tidak banyak menjual hasil karyanya di Pontianak. Dia hanya menitipkan sejumlah jenis hasil kerajinannya ke sejumlah toko suvenir. Salah satunya adalah sampan dengan panjang 50 sentimeter yang dijual Rp 250.000, gitar khas Dayak sepanjang 1,5 meter (Rp 250.000), dan amben khas Dayak (Rp 500.000).

”Saya lebih banyak menjual ke Kuching karena pesanannya banyak dan rutin, hampir setiap bulan. Kalau pesanan lagi banyak, saya mendatangkan warga kampung untuk membantu mengerjakannya. Lumayan berbagai barang ukiran itu bisa terjual antara 30 ringgit dan 300 ringgit per buah,” katanya.

Unik

Kerajinan khas Dayak produksi Bunde memiliki keunikan pada cara pembuatannya. Bunde yang dibantu oleh sejumlah perajin di sebuah sentra kerajinan itu menggunakan teknik pengasapan untuk membuat kayu menjadi kering dan tak dimakan rayap.

Pengasapan itu juga membuat hasil kerajinan Bunde memiliki ciri khas, yakni berwarna hitam. Kalau masih bisa mendapat bahan baku kayu belian (ulin), tak perlu diasapi. Kayu belian memang sangat bagus karena merupakan salah satu jenis kayu yang sulit lapuk. ”Kayu yang lebih sering saya gunakan adalah kayu leban yang akan bagus kalau diasapi,” tutur Bunde.

Barang kerajinan pahat khas Dayak itu ternyata datang dari sebuah bengkel sederhana di Gang Bersatu, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalbar. Di rumah yang sederhana itu Bunde memiliki dua tempat pembuatan barang kerajinan.

Kedua tempat pembuatan barang kerajinan itu masing-masing berukuran sekitar 2 meter x 4 meter. Langit-langit ruangan sudah penuh sarang laba-laba. Debu pun hampir memenuhi semua sisi ruangan.

Namun, dari tempat sederhana itu, Bunde mencoba menjaga idealismenya. ”Saya hanya ingin seni tradisi Dayak, salah satunya pahatan yang memiliki beragam motif ini, bisa terjaga dan tidak hilang,” katanya.

Keunikan karya Bunde sudah diakui para wisatawan yang berkunjung ke Kuching. Wisatawan yang mencari kerajinan tangan di kawasan Main Bazaar, Water Front City, Kuching, tak akan sulit mendapatkan karya Bunde. Bahkan, karya Bunde bisa dibilang menghidupi kawasan itu.

”Di kawasan yang khusus untuk penjualan kerajinan tangan itu hampir sebagian besar barangnya merupakan produksi Indonesia. Orang-orang Malaysia dan wisatawan Eropa yang datang ke Kuching sangat menghargai karya-karya orang Indonesia. Di rumah-rumah sederhana orang di Kuching, saya melihat banyak kerajinan tangan khas Indonesia yang mereka pajang,” kata Bunde.

Namun, hal itu amat berbeda dengan pemandangan di kebanyakan rumah orang-orang berpunya di Kalimantan. ”Walaupun mereka memiliki uang lebih, ternyata tak banyak hasil kreasi seni yang mereka pajang. Berarti ini bukan soal sudah sejahtera atau belum, kan?” tutur Bunde.

Lalu tak takutkah Bunde kalau suatu saat karyanya diklaim dan dipatenkan oleh orang Malaysia seperti yang belakangan sering terjadi? ”Kenapa mesti takut, itu kan karya orang Dayak. Orang-orang Malaysia sebagian juga merupakan orang Dayak. Kami hanya dipisahkan oleh kepentingan politik bernama garis batas negara,” ujarnya.

Kini Bunde hanya bisa menunggu upaya pemerintah agar kekayaan seni dari berbagai suku bisa tumbuh dan menghidupi masyarakatnya. ”Kalau karya-karya itu tidak tumbuh atau bisa menghidupi orang-orang yang menekuninya, barangkali kekayaan seni tradisi itu akan segera punah seperti yang kita prihatinkan,” katanya.

Hingga kini warga asli suku Dayak itu masih tetap hidup dengan idealisme dan kesederhanaannya. Bunde dan keluarganya tetap tinggal di ujung gang yang belum beraspal. Tak banyak orang menyangka bahwa pemilik rumah kecil itu merupakan salah satu perajin yang diperhitungkan di Kuching, Malaysia.

PAULUS BUNDE

• Lahir: Kapuas Hulu, 2 Febuari 1965
• Istri: RM Sri Widiyatmi (40)
• Anak: - Pande Prakosa (15) - Maria Aurelia (9)
• Pendidikan: - SD Benua Martinus, Kapuas Hulu - SMP Benua Martinus - SMA Pancasetia, Sintang - Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura
• Penghargaan: Juara Desain Produk Inacraft 2007

sumber berita & foto: kompas.com

Read More......


Lambang Kalimantan Tengah Terdiri Dari
1. Talawang Segi Lima
2. Balanga
3. Tali
4. Bintang
5. Burung Tingang
6. Lukisan Sangen "Haramaung Batulang Bunupangadien"
7. Sumpit Dan Mandau
8. Padi Dan Kapas
tentu semuanya memiliki arti tersendiri yang sesuai dengan kepribadian ras dan kondisi Kalimantan Tengah.
Lambang Kalimantan Tengah berbentuk talawang segi lima. Di dalamnya terdapat gambar bulat telur berbentuk belanga, melambangkan senjata tradisional Kalimantan Tengah. Di dalam belanga terdapat tali yang terbuat dari sejenis akar yang dapat dipintal dan dililit melingkar menyerupai belanga. Ujungnya yang terikat bersimpul mati melambangkan kekokohan. Motto "Isen Mulang" berarti Pantang Mundur yang berasal dari Bahasa Sangen.
Bintang bermakna Ketuhanan Yang Maha Esa. Burung Tingang melambangkan kebesaran. Talawang, senjata pelindung segala marabahaya. Di dalam talawang terdapat lukisan Sangen berbunyi Harimaung Batulang Bunupangadien Batikur Talawang yang melambangkan suatu perjuangan yang pasti mendatangkan hasil. Mandau, melambangkan kejayaan suku Dayak, Sumpitan adalah perdamaian, karena alat ini tidak boleh digunakan untuk membunuh, sementara padi dan kapas melambangkan kemakmuran. Handep Hapakat Manggatang Utus Itah "Utus Dayak"

Read More......

Perang Air Atraksi Budaya "Laluhan" Dayak Kapuas


Sekelompok anak muda bersorak sorai kegirangan ketika senjata air yang mereka miliki yang diarahkan ke lawan mengenai sejumlah pemuda lainnya sehingga pemuda yang dinilai sebagai lawanya itu basah kuyub.

Kendati basah kuyup sejumlah pemuda yang terkena semprotan air itu tidak marah, sebaliknya mereka justru kegirangan dengan sorak sorai pula, seraya membalas serangan itu dengan semprotan air pula sehingga terjadilah baku serang.

Perang-perangan air tersebut terjadi di atas Sungai Kapuas, Kota Kuala Kapuas, Ibukota Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Situasi itulah yang terjadi dalam perang air (perang danum) dalam atraksi budaya "Laluhan" yaitu sebuah acara ritual Dayak Ngaju.Laluhan sebuah tradisi masyarakat Dayak yang masih dilestarikan wearga Kabupaten Kapuas,
bahkan belakangan atraksi budaya sekaligus ritual itu selalu meramaikan acara puncak peringatan hari jadi Kota Kuala Kapuas, seperti yang terjadi Rabu (21/3) lalu.

Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kapuas, H.Nurul Edy, atraksi budaya tersebut akan selalu digelar berkenaan peringatan hari jadi Kabupaten, maksudnya tiada lain sebagai hiburan masyarakat sekaligus sebagai sarana pelestarian kebudayaan dan kepercayaan warga setempat.

Maksud lain, adalah untuk menjadikan acara adat itu sebagai atraksi wisata tahunan untuk menjadi "magnet" bagi kunjungan wisatawan ke wilayah berjuluk "kota air" tersebut.

"Kita akan terus promosikan atraksi budaya dan atraksi wisata Lauhan ke berbagai penjuru tanah air, baik melalui pemberitaan mas media, maupun bentuk promosi yang lain, dan berharap atraksi ini menjadi daya pikat kuat terutama bagi wisatawan mancanegara," katanya kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya, dalam atraksi kali ini bukan saja dihadiri berbagai wisatawan lokal Kalteng dan wisatawan provinsi tetangga Kalsel dan Kaltim , tetapi juga terdapat sejumlah turis asing seperti dari Perancis, Thailand, maupun dari Australia.

"Kita berharap promosi atraksi wisata ini bisa melalui dari mulut ke mulut wisatawan asing tersebut," kata Nurul Edy.

Berdasarkan berbagai keterangan disebutkan, Bagi warga Dayak Ngaju, tradisi laluhan berkaitan acara adat yang disebut tiwah, semacam upacara pengangkatan tulang belulang seseorang yang sudah meninggal dan dikubur, kemudian dipindahkan ke suatu bangunan kecil yang disebut sandung.

Upacara ini terkait dengan kepercayaan nenek moyang suku Dayak setempat "Kaharingan." guna memindahkan tulang belulang tersebutlah maka dilakukan acara Laluhan.

Laluhan adalah pengantaran barang-barang pemberian dari warga desa yang satu kepada warga desa yang lain yang lagi menggelar upacara ritual tiwah, pemberian sebagai ungkapan kebersamaan dan kegotong-royongan.

Dalam upaya ini biasanya dipimpin tokoh adat tokoh agama dengan cara menfaatkan sarana air berupa, klotok, tongkang, sampan, rakit, atau perahu yang penuh dengan berbagai hiasan berornamen budaya Dayak setempat.

Barang-barang sumbangan tersebut dibuat ke dalam angkutan air itu, kemudian di dalam angkutan air seperti perahu terdapat sejumlah orang yang memainkan alat musik tradisional setempat seperti gong, kenong, babun, seruling, biola dan sebagainya seraya bernyanyi dengan lagu khas setempat.

Maksudnya, upacara Laluhan adalah untuk membantu meringankan beban bagi kampung lain yang sedang menyelenggaraan upacara ritual tiwah, karena dalam upacara ritual ini menelan biaya yang cukup besar.

Selain sebagai bagian ritual upacara adat tiwah, acara laluhan

kini sudah dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi atraksi budaya lainnya seperti di antaranya menampilkan pesta perang adat, perang air, saling melempar batang tanaman suli sebagai simbol pengganti senjata tombak.

Kegiatan perang-perangan ini sebagai simbol, begitu gigihnya warga Dayak dalam mempertahankan wilayahnya dari gangguan musuh, atau sebagai simbol begitu gigihnya warga setempat memerangi kemiskinan dan keterbelakangan agar menjadi sebuah masyarakat yang maju dalam upaya memajukan pembangunan khususnya Kabupaten kapuas dan secara umum Provinsi Kalteng.

Sumber: Kompas

Read More......

Marko Mahin, Menyelami Kaharingan


Banyak orang beranggapan bahwa Kaharingan bukanlah agama, melainkan hanya adat, kebudayaan, atau aliran kepercayaan milik masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Anggapan seperti itu muncul karena negara hanya mengakui enam agama resmi.

Para penganut Kaharingan sempat mendapat label sebagai orang yang tak beragama. Kaharingan dinilai hanya agama orang pedalaman atau penghuni hutan tropis. Agama masa lampau dan diramalkan bakal punah seperti kayu lapuk.

”Itu tidak benar,” kata Marko Mahin, antropolog, penerima beasiswa Ausbildungschilfe, Jerman, 1992-1997. Dia juga menjadi mahasiswa lulusan terbaik dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta dengan predikat cum laude.


Sejak 30 Januari lalu,
Marko menyandang gelar doktor antropologi setelah lulus dengan predikat cum laude dari Program Pascasarjana Antropologi, Universitas Indonesia. Disertasinya yang berjudul Kaharingan, Dinamika Agama Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) dia pertahankan tanggal 29 Desember 2009.
Gelar intelektual ini istimewa karena diraih oleh putra Dayak Ngaju. Marko lahir di Sei Kayu, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kaharingan adalah agama Dayak Ngaju sejak ribuan tahun lalu.

”Saya lelah dengan penggambaran sewenang-wenang tentang Kaharingan. Mereka dilabel dan distigma sebagai kafir, penganut agama kegelapan, atau agama para pengayau,” kata penerima beasiswa dari Netherlands Education Center (NEC) Indonesia untuk program S-2 di Universitas Leiden, Belanda, dan beasiswa dari Global Ministry International, Amerika Serikat, (2006-2009) ini.

Marko meyakini, pasti ada penjelasan ilmiah yang lebih manusiawi dan tidak diskriminatif. Untuk membuktikannya, antropolog, teolog, dan pendeta yang bertugas sebagai pengajar agama dan kebudayaan di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT-GKE), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ini membaur dengan para penganut Kaharingan selama setahun untuk mengkaji Kaharingan dan penulisan disertasi.

”Kaharingan itu agama para leluhur Dayak. Saya terpanggil meneliti sekaligus menyelami keluhurannya,” ujar Marko yang juga memperoleh Visiting Research Fellowship, Asia Research Institute (ARI) of the National University of Singapore, pada Mei-Juni 2008.

Itu sebabnya dia terlibat langsung pada berbagai upacara yang digelar pengikut Kaharingan, seperti upacara Tiwah (ritual kematian tahap akhir), dan upacara Basarah (ibadah rutin Kaharingan setiap Kamis atau malam Jumat).

Kaharingan itu adalah agama yang dilahirkan masyarakat Dayak di Kalimantan, bukan impor dari luar. Secara sosial dan historis, agama ini berbeda dengan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Kaharingan awalnya tak bisa mengikuti ukuran beragama seperti keenam agama itu, yang antara lain punya hari besar, rumah peribadatan, dan organisasi keagamaan. Tak mengherankan jika ada yang meramalkan, agama Dayak ini akan punah seperti kayu lapuk.

Pendapat itu, ungkap Marko, kontras dengan faktanya. Kaharingan mempunyai sistem adaptif yang baik terhadap perubahan sosial dan modernisasi. Kepercayaan ini pertama kali diperkenalkan Tjilik Riwut tahun 1944, saat menjabat Residen Sampit dan berkedudukan di Banjarmasin.

Mitos suci

Kata ’kaharingan’ semula hanya dipakai pada upacara ritual keagamaan Dayak Ngaju, dalam basa sangiang, bahasa ritual para balian (imam) saat menuturkan mitos-mitos suci. Kata ’kaharingan’ berarti hidup atau kehidupan. Tahun 1945, Kaharingan diajukan kepada pemerintah pendudukan Jepang di Banjarmasin sebagai penyebutan bagi agama Dayak.

Tahun 1950, dalam Kongres Sarikat Kaharingan Dayak Indonesia, Kaharingan resmi dipakai sebagai generik untuk agama Dayak. Tahun 1980, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan.

”Hindu dipilih bukan karena ada kesamaan dalam ritualnya, melainkan sebagai agama tertua di Kalimantan,” katanya.

Dalam perkembangannya, mereka punya tempat untuk beribadah kepada Sang Pencipta Ranying Hattalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa), yakni Balai Basarah atau Balai Kaharingan. Tahun 2006 di Kalteng terdata 212 Balai Basarah.

Mereka juga punya kitab suci, Panaturan, dan buku agama lain, seperti Talatah Basarah (kumpulan doa), Tawar (petunjuk tata cara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), Pemberkatan Perkawinan, dan Buku Penyumpahan/Pengukuhan (untuk acara pengambilan sumpah/pengukuhan jabatan).

Mereka juga merayakan hari keagamaan, mendirikan organisasi keagamaan untuk pembinaan umat mulai dari desa hingga provinsi, mendidik guru agama, dan mencetak buku agama mulai dari SD hingga perguruan tinggi, mengadakan Festival Tandak, seperti Musabaqah Tilawatil Quran dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), serta membangun kompleks pemakaman dan Sandung.

Sejak tahun 1980 mereka dimasukkan sebagai penganut Hindu. Badan Pusat Statistik Kalteng tahun 2007 mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan. Perkembangan agama ini di Kalteng meluas ke suku Dayak lain, seperti Dayak Luangan Ma’anyan, Tumon, dan Siang. Meskipun sistem kepercayaannya berbeda dengan Dayak Ngaju, agama yang mereka anut juga disebut Kaharingan.

Dayak Meratus di Kalsel, Dayak Tunjung dan Benuaq di Kaltim juga menyebut agama mereka Kaharingan. Di Kalbar ada Dayak Uud Danum (Ot Danum) di Embalau dan Serawai, yang menggelar upacara Tiwah.

”Para penganut Kaharingan sangat rasional dalam menjalankan keluhuran agamanya, sama seperti agama lain,” kata anak keempat dari 7 bersaudara ini.

Marko meraih gelar doktor berkat dorongan ayahnya, Ruthman Luther Mahin, petani di Desa Sei Kayu, yang berjuang menyekolahkan tujuh anaknya. Sejak SD mereka bersekolah di Palangkaraya.

MARKO MAHIN

• Lahir: Sei Kayu, Kabupaten Kapuas, Kalteng, 26 Maret 1969

• Istri: Widya Hastuti • Anak: Angela (Lala), Evita

• Pendidikan:

- SD Negeri Pahandut 1 Palangkaraya, lulus 1982
- SMP Negeri 1 Palangkaraya, 1985
- SMA Negeri 1 Palangkaraya, 1988
- S-1 Teologi, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, 1997
- S-2 Antropologi, Universitas Leiden, Belanda, 2003
- S-3 Antropologi, Universitas Indonesia, 2009

• Pekerjaan, antara lain:

• Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT-GKE), Banjarmasin, Kalsel, 2000-kini
- Pengajar tak tetap di beberapa perguruan tinggi, 2007-kini
- Peneliti dan konsultan independen, 2005-kini

• Aktivitas sosial dan organisasi, antara lain:
- Kepala Pusat Studi Agama dan Masyarakat STT-GKE, 2003-2006
- Koordinator Forum Dialog Kalsel, 2002-2006
- Direktur Eksekutif Lembaga Studi Dayak-21, 2004-2006

• Karya buku, antara lain:
- Hausmann Baboe: Tokoh Pergerakan Rakyat Dayak, yang Terlupakan, Jakarta: Keluarga Besar Hausmann Baboe, 2006
- Perempuan-perempuan Penganyam Kehidupan: Dinamika Kehidupan Para Pengrajin Tikar Rotan di Kalteng, Banjarmasin, 2006
- 70 Tahun GKE: Pergumulan dan Upaya GKE Menuju Kemandirian (Editor bersama Rama Tulus), Banjarmasin, 2005
- Tamanggong Ambo Nikodemos Djaja Negara: Menyusuri Sejarah Sunyi Seorang Temenggung Dayak, Lembaga Studi Dayak 21, 2005

• Akan terbit, antara lain:
- Manajah Antang: Upacara Memanggil Elang Gaib Pembawa Petunjuk Orang Dayak Ngaju
- Kaharingan: Dinamika Politik Agama Dayak di Kalteng

sumber: Kompas

Read More......

MANUHIR (Pengobatan Alternatif dari Dayak Ngaju)


Zelda Ewanggelion (4) menangis tak henti-hentinya ketika Dandel D. Pangkut (66) mengeluarkan darah dari ibu jarinya dengan menggunakan jarum kecil. Sebelumnya Dandel membacakan doa-doa kemudian menutup jalan darah yang keluar tadi dengan serpihan emas dan perak yang sudah disediakan Leani ibu dari Zelda. Setelah itu Dandel melanjutkan tampung tawar Zelda dengan menggunakan beras yang sudah dicelupkan ke dalam sebutir telur ayam kampung yang sudah dipecahkan terlebih dahulu.
Pengobatan alternatif yang dilakukan oleh Dandel ini sering disebut Manuhir oleh orang Dayak Ngaju. Bermula dari anak muda, sebut saja Tampung yang dapat “melihat” tanda darah “kotor” dari Zelda ketika bermain di depan rumah. Tampung menyampaikan kepada orang tua Zelda, darah itu harus dikeluarkan dengan cara Manuhir, kalau tidak dilakukan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, misalnya mati berdarah (baca kecelakaan), mati diterkam buaya atau mati tenggelam.
Manuhir adalah mengeluarkan darah kotor dari tubuh seseorang yang selalu mengancam kesehatan tubuh dan jiwa dari seseorang. Berasal dari kata “Tuhir” yang berarti mengiris, menyayat atau melukai. Tempat manuhir itu ada dibeberapa tempat, tergantung dari tempat darah kotor itu berada. Namun Dandel D. Pangkut (66) mengatakan bahwa ia mengambil filosofi dari kedua ujung jempol tangan untuk mengeluarkan darah. “Seperti anak bayi yang ada dalam kandungan ibunya dan mengisap jempol tangan itulah alasan saya menggunakan cara demikian, kehidupan manusia ada dipengaruhi oleh faktor luar, yaitu “roh jahat” yang bekerja dalam darah. Roh jahat ini memberikan tanda pada seseorang yang berciri pada tubuh orang tersebut. Penguasa luar (baca roh jahat) melihat tanda yang ada di dalam darah tubuh orang tersebut”, terang Dandel.
Manuhir diperlukan untuk mengeluarkan darah dari tubuh orang yang mau di obati, sehingga gangguan dan ancaman keluar dari tubuh orang tersebut. Kuasa Tuhan Yang Maha Esa digunakan untuk mengeluarkan darah tersebut dengan doa-doa khusus yang diucapkan pada seseorang yang mengobati tersebut. Firasat ini bisa dimulai dari bayi atau pada saat dewasa dapat muncul. Hal ini dapat muncul karena “pahuni”, sehingga ciri ini dimunculkan. “Kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mengetahui ciri ini, sehingga apabila ada orang yang dapat melihat ciri ini harus menyampaikannya kepada orang yang bersangkutan. Apabila ini tidak disampaikan maka bencana akan menimpa orang tersebut yang dapat melihat ciri namun tidak menyampaikannya”, jelas Dandel.
Akibat yang sering terjadi kalau darah tidak dikeluarkan, akan mengakibatkan mati berdarah, mati di makan buaya, mati tenggelam. Namun jaman sekarang karena jauh dari sungai sehingga wujud buaya berganti pada motor dan mobil, kebanyakan firasat yang ada sekarang adalah mati berdarah tutur pria yang sudah beruban ini.
Syarat-syarat yang harus dilengkapi yaitu, sebutir telur ayam kampung, sebuah jarum kecil, serpihan emas, serpihan perak, dan sejumlah uang digulung dan diletakkan di atas beras pada mangkok putih. Emas dan perak ini digunakan untuk menutup jalan keluar dari darah yang sudah dikeluarkan dari tubuh orang tersebut. Jarum digunakan untuk mengeluarkan darah dari ujung ibu jari dari orang yang diobati.
Sumber Dandel D.Pangkut (66) tahun.

Read More......

KAHARINGAN BUDAYA ATAU AGAMA ?


Pertanyaan di atas mengusik batin saya dan mengajak saya untuk mencari jawabannya. Mengutip dari buku Menelusuri Jalur-Jalur Keluhuran Sebuah Studi Tentang Kehadiran Kristen di Dunia Kaharingan di Kalimantan yang ditulis oleh Hermogenes Ugang ’’Kaharingan’’ berasal dari bahasa Sangen (Dayak kuno) yang akar katanya adalah ’’Haring’’ Haring berarti ada dan hidup dari diri sendiri, tanpa diadakan atau diolah oleh pihak lain melainkan yang ada tersedia dari diri sendiri, jadi Kaharingan itu sudah ada dengan sendirinya.

Apa hubungan antara Kaharingan dan Hindu Kaharingan?, cukup panjang perjuangan yang harus dihadapi hingga Kaharingan (baca Hindu Kaharingan) akhirnya diakui sebagai agama. Sebelum tahun 1980 Kaharingan tidak termasuk dalam agama dan hanya menjadi kebudayaan. Mengutip tulisan Rangkap I Nau dengan mengatakan badan jasmani kita adalah warga negara Republik Indonesia, tetapi rohani kita belum menjadi warga negara RI. Kondisi ini mengakibatkan adanya diskriminasi pada agama Kaharingan. ”Pada tahun 1970 Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya dikosongkon oleh pemerintah karena saya menganut Kaharingan ” jelas Sapiah yang KR temui di rumahnya di komplek balai agama hindu Kaharingan jalan Tambun Bungai Palangka Raya. Keadaan lebih diperparah pada tahun 1979, saat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dipimpin oleh Jenderal Amir Machmud, mengeluarkan kebijakan dalam mengisi KTP, yang menyatakan bahwa untuk kolom agama bagi yang bukan beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha di buat tanda strip (-) dan akibatnya beberapa penganut agama Kaharingan melakukan tuntutan ke pemerintah pusat agar diakui sebagai salah satu agama resmi yang tergabung pada salah satu dari sekte agama Hindu. Perjuangan cukup panjang ini akhirnya membuahkan hasil pada tanggal 19 April 1980 Lewis KDR dan kawan-kawan dipercayakan untuk mengurus dan mengelola Majelis Besar Hindu Kaharingan sebagai badan keagamaan.

Proses integrasi dimulai dengan melihat kesamaan-kesamaan dari agama Kaharingan dan agama Hindu, salah satunya adalah upacara bakar mayat (ngaben). ”Orang tua saya pada tahun 1978 mayatnya dibakar dan abunya di simpan di di dalam balanai (guci)”, jelas Bahui yang ikut berdiskusi bersama KR saat mengunjungi Sapiah. Selain persamaan-persamaan dengan agama Hindu tentu saja ada ciri khas tertentu dari Kaharingan, tambah pria yang dipercaya sebagai lurah sekaligus pengurus dari agama Hindu Kaharingan di Tumbang Tabirah kabupaten Gunung Mas. Integrasi ini membutuhkan tenaga akademik untuk mengajar ilmu dan pengajaran tentang agama Hindu Kaharingan. ”Dalam penamaan secara nasional Kaharingan tidak muncul, labelnya atau namanya hanya Hindu saja, sama seperti Sekolah Tinggi Kristen lainnya yang muncul hanya Kristen tidak Kristen Protestan, Kristen Katolik atau apapun” jelas Drs. Midday, MM yang saat ini menjabat ketua di Sekolah Tinggi Agama Hindu Tampung Penyang (STAH-TP) Palangka Raya.

Disamping kurikulum nasional kebijakan di STAH-TP membuat kurikulum lokal dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat di wilayah Kalimantan. “ Ada tujuh mata kuliah yang termasuk kurikulum lokal, mengajarkan tentang Hindu Kaharingan yaitu: 1. Bahasa sangiang, 2. Teologi Hindu Kaharingan, 3. Tandak, 4. Bahasa daerah (Dayak Ngaju), 5. Tawur, 6. Acara agama Hindu Kaharingan dan 7. Panaturan (kitab suci)” jelas pria berkacamata ini.

Ditemui di lingkungan kantornya seluas 9 hektar di jalan G. Obos Palangka Raya, Midday menjelaskan kepada KR, secara filosofis antara Kaharingan dan Hindu Kaharingan itu sama, Hindu adalah nama agama yang diakui oleh secara nasional dan Kaharingan adalah penganut agama Hindu yang khas di pulau Kalimantan. Agama Hindu Kaharingan menganut konsep desa kala patra, yang artinya desa itu menyesuaikan dengan tempat, kala itu menyesuaikan dengan waktu dan patra itu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, jadi terus berkembang, jelas pria yang suka mengenakan gelang khas Dayak. Kelemahan dari agama Hindu Kaharingan ini salah satunya belum banyak yang dokumen-dokumen tertulis dan ini merupakan tanggung jawab dari civitas akademika kampus STAHN-TP ini untuk mengadakan penelitian-penelitan lanjutan dan membukukannya, tambah Midday.

Agama Kaharingan menyebut Tuhan dengan nama ’’Ranying Mahatalla Langit, Kanarohan Tambing Kabantaran Bulan, Rajan Tuntong Matanandau.’’, mengutip tulisan dari Hermogenes Ugang, nama julukan ini terkandung suatu paham bahwa Ilah tertinggi Kaharingan bukanlah matahari atau bulan melainkan sesuatu yang disinarkan dari dan oleh matahari dan yang sinarnya itu sampai ke bulan, yaitu api.
Harapan ke depan semoga Kaharingan (baca Hindu Kaharingan) semakin eksis dalam ajaran dan penerapannya bagi masyarakat Dayak!. (tulisan ini juga dimuat di Majalah Kalimantan Review) by. Ocis

Read More......

LEGENDA MIHING

Mihing
(Rakit “Magis” dari Sungai Kahayan)
Konon jaman dahulu cerita ini dikenal suatu tempat di Rangan Mihing Sungai Kahayan Kalimantan Tengah hidup seorang bernama Bowak, seorang pekerja yang tekun dan pandai memelihara babi. Setiap hari mencari keladi dan memasak untuk makanan babi peliharaannya.
Suatu ketika Bowak bersenandung (menyangen atau mangarungut) di antara syair terlantun “Narai kajaria kea gawi kalutuh Nasang Tingang dia bahelat andau, maraga kalawet isen sangkelang pandang kalaman” artinya: kapan berakhir pekerjaan ini, setiap hari mencari daging burung tingang, mencincang daging monyet/ owa-owa. Padahal yang dicincang adalah keladi untuk babi peliharaannya.
Senandungnya terdengar oleh Sangiang dan memerintah Sahawung dan Lewu Telo (nama dewa kepercayaan masyarakat Kaharingan turun ke bumi menggunakan Palangka Bulau (nama sejenis perahu alam atas menuju danum kalunen (bumi) tempat Bowak berada, dan Bowak langsung di ajak ke Lewu Telo (tempat gaib alam atas).
Bowakpun diterima dan diperlakukan dengan baik dan diuji atas senandungnya tadi Bowak diajak berburu burung tingang untuk melihat siapa paling banyak mendapatkannya. Ternyata Bowak yang menang berhasil mengumpulkan burung tingang.
Ujian kedua mengajak Bowak mengintai ikan dengan cara bersiul atau (manyan tamban) sehingga ikan-ikan bermunculan, sehingga mudahlah ikan tersebut ditangkap pakai tangan atau ditombak. Untuk kali ini Bowak terbanyak mengumpulkan ikan.
Pada suatu malam Sahawung dan seluruh penghuni Lewu Telo mengadakan rapat mempersiapkan bahan dan alat membangun Mihing. Karena pada saat itu Bowak ada dekat mereka maka mereka menutup Bowak dengan kajang dan dikurung sehingga tidak melihat proses pembuatan Mihing, tapi Bowak berkata dia dapat melihat proses pembuatan Mihing tersebut. Tahap kedua akhirnya orang di kampung telo menutupinya dengan “Garantung” atau gong sehingga Bowak tidak melihat proses pembuatan Mihing tersebut, namun Bowak kembali mengatakan dapat melihat proses pembuatan Mihing dengan jelas walapun kenyataanya dia tidak melihat apapun karena gelap. Tahap ketiga akhirnya orang di kampung telo menutupinya dengan “lunta” atau jala agar Bowak tidak melihat proses pembuatan Mihing tersebut, namun bowak membohongi sambil menangis bahwa dia tidak melihat apapun karena gelap padahal proses pembuatan Mihing tersebut dapat dilihatnya dengan jelas dan dalam hatinya bertanya apa, bagaimana kegunaan Mihing. Bowak melihat bagaimana cara membuat Mihing dan terlihatlah manfaat Mihing tadi dalam sekejab dimasuki harga kekayaan berupa gong, balanga, emas, intan dan sebagainya.
Setelah 3 bulan di Lewu Telo Bowak dipulangkan ke pantai danum kalunen, Bowak termasuk orang cerdas dan mampu mengingat kembali dan membuat bagaimana cara serta tehnik membuat Mihing tadi di bumi. Ketika Mihing hampir selesai dalam sekejab Mihing bergoyang dan diisi oleh gong, guci, balanga, emas, intan yang berasal dari lewu telo, dari barang yang sudah terkumpul sebelumnya.
Mengetahui penyebab itu maka Sahawung turun ke bumi dan memanggil Bawok dan mengatakan telah cukup harta yang kamu peroleh, Mihing ini tidak boleh dibangun di atas tanah atau daratan kecuali dibangun di sungai dan hanya boleh dimasuki ikan besar maupun kecil. Sejak itulah manfaat Mihing digunakan sebagai penangkap ikan. Mengambil ikan di bagian buritan Mihing jangan sampai mengeluarkan darah dari ikan sebab dapat mengakibatkan ikan tidak mau masuk Mihing akibat tercium jenis ikan lainnya
Di akhir hidupnya Bowak sejahtera dan mempunyai harta benda yang cukup untuk memenuhi keperluan hidupnya. Diyakini oleh masyarakat sekitar Tumbang Danau Bowak menjadi gaib dan menghilang di sebelah hilir kampung Tumbang Danau yang saat ini disebut kaleka.
Batasan daerah pemasangan Mihing hanya pada sungai Kahayan batas sebelah hulu de desa Tangkahen (dahulu dikenal nama desa Tumbang Danau Mihing) atau dikenal juga dengan nama Lewu Pandih Nyaring Rundum Bayang Henda. Sekarang tempatnya angker, di daerah tersebut tinggal sisa pohon kelapa, durian, langsat dan tanaman lainnya yang usia kampung tersebut diperkirakan mencapai sekitar 500 tahun. Menurut Sunthin Mahar (64), Mihing terakhir dibuat pada tahun 1961.
Sumber:
1. Sunthin Mahar (64) dari Desa Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas, saksi hidup pada waktu beliau berumur 16 tahun.
2. Bahan bacaan dari museum negeri “Balanga” pemerintah propinsi Kalteng

Read More......

Pohon Hayat Suku Dayak Kaharingan
Imam Qalyubi

Penulis adalah konservator naskah-naskah kuno Nusantara. Mahasiswa S3 Ilmu Budaya UGM.

Di Nusantara, mitos pohon hayat telah menjadi konsepsi bersama yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian mitos pohon hayat banyak ditemukan dalam mitologi beberapa suku di Indonesia walaupun dengan penamaan yang berbeda-beda akan tetapi system perlambangannnya hampir sama sehingga dalam pemaknaannyapun cenderung sama.


Secara umum pohon dalam berbagai kehidupan budaya Nusantara dipercaya memiliki kekuatan sebagai pemberi petunjuk kehidupan, pemberi keteduhan, pemberi perlindungan. Sebagaimana kepercayaan orang Jawa terhadap beberapa pohon keramat seperti pohon Dewadaru (anugerah Dewa), pohon waringin kurung di Keraton Yogyakarta dan puluhan atau bahkan mungkin ratusan pohon-pohon keramat lainnya yang hingga kini masih dikeramatkan dan tersebar di beberapa tempat di Jawa maupun di beberapa tempat di Indonesia.

Pohon dalam pandangan masyarakat Nusantara lama secara anatomis dianggap sebagai personifikasi manusia yang memiliki rambut, tangan, kaki, bernafas, dll. Sehingga pohon dianggap sebagai saudara tua yang lebih dulu ada sebelum manusia muncul di permukaan bumi ini. Pohon dengan segala mitosnya kemudian diperlambangkan sebagai pohon hayat yang diukirkan pada wayang Jawa yang berkembang pada masyarakat Jawa Islam. Pohon hayat yang terdapat dalam pewayangan pada masyarakat Jawa Islam sering dipertalikan dengan para wali atau sunan karena pada masa itu wayang digunakan sebagai media dakwah. Ukiran pohon hayat dalam pewayangan dikenal sebagai gunungan karena bentuknya yang menyerupai gunung.

Selain suku Jawa, suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah penganut Kaharingan adalah satu suku di nusantara ini yang juga memiliki konsep pohon hayat. Pohon dalam alam pikiran suku Dayak dianggap sebagai pemberi kehidupan sehingga pohon kemudian disimbolikkan sebagai pohon kehidupan atau Batang Garing . Pohon hayat atau Batang Garing bagi penganut Kaharingan merupakan perlambangan sebuah keabadian yang akan ditemui pada kehidupan swargaloka (baca:surga).

Jika ditelisik lebih jauh suku Dayak penganut Kaharingan memiliki suatu pandangan bahwa pohon yang bukan dalam pengertian simbolik adalah subyek yang berdiri secara linear dengan manusia sehingga hutan yang merupakan masyarakat pohon atau komunitas dalam dunia perpohonan menjadi satu ikatan yang tidak dapat dilepaskan. Manusia dan hutan adalah dua subyek dengan kapasitasnya masing-masing. Manusia tidak hanya diposisikan pada tataran subyek semata khususnya dalam memperlakukan hutan akan tetapi di sini alam turut menjadi subyek yang dapat memberikan pengaruh terhadap prilaku manusia di sekitarnya.

Jika dilacak dari aspek kesejarahan konsep pohon hayat pada penganut Kaharingan dimungkinkan hasil pengadopsian dari kebudayaan Hindu lama yang terdapat di pulau Jawa lama yaitu pohon kalpataru. Hal ini dapat dilihat pada relief Candi Prambanan. Di situ terpampang jelas gambar lengkap pohon hayat atau kalpataru dengan segala simbol-simbolnya. Namun terdapat sebuah pendapat lain bahwa nama kalpataru sendiri muncul pertama kali di Kalimantan. dan dipahatkan pada prasasti di Kutai pada masa kerajaan Hindu tertua Nusantara dengan rajanya Mulawarman. Dalam prasasti tersebut dikatakan bahwa istilah kalpataru awalnya adalah istilah yang mengacu pada aktivitas pemberian sedekah yang dilakukan oleh Raja Mulawarman sendiri kepada rakyatnya. Seiring dengan perjalanan waktu, nama kalpataru kemudian berubah menjadi sebuah falsafah atau perlambangan sebagai pemberi kehidupan, karena dengan pemberian atau sedekah tersebut seseorang akan dapat menyambung hidupnya pada hari berikut dan seterusnya.

Terlepas apakah pohon hayat atau Batang Garing pada penganut Kaharingan berasal dari Kalimantan atau Jawa, yang jelas simbol Batang Garing merupakan sebuah konsep pohon hayat sebagaimana yang diyakini oleh beberapa suku di Nusantara. Jika dianalisis secara linguistis kata batang sendiri berasal dari bahasa Melayu yang artinya “pohon”. Sementara kata garing yang artinya “hidup,” diduga berasal dari bahasa Dayak kuno. Namun dalam pengamatan penulis kata garing berasal dari kata aring yang artinya nama sebuah pohon di Jawa (lihat Prawiroatmojo, 1980:17). Melalui proses linguistis kata aring kemudian berubah menjadi garing, dan kemudian menjadi Batang Garing sebagaimana yang dipahami oleh penganut Kaharingan kini.

Bagaimana kemudian makna perlambangan dari Batang Garing itu sendiri? Dengan penggambaran yang meyeluruh Batang Garing memiliki berbagai macam simbol seperti, tombak, gong, pohon utuh, buah-buahan, ranting-ranting permata, bintangbintang, belanga dan dimungkinkan masih terdapat simbolsimbol lainnya yang belum penulis temukan secara komplit karena antara gambar yang satu dengan yang lainnya cukup berbeda. Simbol-simbol yang terdapat dalam Batang Garing tersebut, jika dimaknai dengan pendekatan semiotis dengan landasan pemaknaan secara ke-nus-wantaraan, akan memiliki pemaknaan sebagai berikut:

Batang yang tegak lurus maknanya adalah hubungan manusia dengan sang pencipta, di mana sang pencipta dipersepsikan berada di aras atas sehingga ujung pohon menunjuk pada arah tersebut. Belanga atau tajau, adalah simbol tempat air kehidupan atau tirtamerta. Daun, adalah daun hijau abadi yang tidak akan pernah layu sehingga secara berkelanjutan akan memberikan kesejukan bagi makhluk yang hidup dalam keabadiannya. Ranting-ranting dari permata, merupakan perlambang pohon yang akan memberikan kesejahteraan dan perlambang kemewahan alam surgawi. Buah-buahan dari permata, adalah perlambangan dari kemakmuran kesejahteraan yang jika dipetik tidak akan pernah habis dan akan berbuah sepanjang masa. Tombak, sebagai perlambang untuk menjaga kesucian dari Batang Garing. Bintang-bintang, merupakan perlambang untuk menerangi alam semesta. Gong, sebuah anomatopi yang artinya Gung atau keagungan atau yang maha besar.

Jika dilihat dari aspek ekonomi bahwa pohon itu sendiri dapat menghasilkan uang yang dapat membantu perekonomian dan perbaikan kehidupan masyarakat sementara pada tataran kosmologi bahwa pohon selain pemberi kehidupan di satu sisi pohon juga merupakan partner yang linear dengan manusia yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Sementara pada aspek pemaknaan simboliknya bahwa konsep pohon hayat merupakan konsep pohon surgawi dimana segala macam bentuk kenikmatan semua tersedia disitu yang diperuntukkan Tuhan kepada manusia yang dipilihnya.

Teras Mihing, Ph.D
Palangkaraya, 15 Juli 1986

Hidup, menurut orang Dayak Ngaju yang tinggal di sepanjang sungai Kapuas, Kahayan, Katingan, Rungan, Manuhing dan Mentaya merupakan suatu hasil benturan dua kekuatan. Alam semesta terbentuk karena adanya benturan antara benda-benda langit yang dengan dahsyatnya menyemburkan api-api yang terpercik kemana-mana dan kemudian membentuk alam semesta. Alam itu kemudian terbagi atas alam yang dikuasai oleh Ranying Mahatala Langit dan dunia bawah yang dikuasai oleh Jata atau Tambun. Walaupun terdapat dua mahadewa tersebut, namun pada hakekatnya kedua mahadewa tersebut adalah satu, sebaba Jata sebenarnya tidak lain adalah bayang-bayang dari Ranying Mahatala Langit sendiri. Keduanya berbeda dan memiliki daya hidup serta kekuasaan sendiri-sendiri, tetapi keduanya memebentuk suatu keutuhan kosmis. Jika salah satu dari keduanya dihilangkan maka keseimbangan kosmis akan terganggu.

Manusia sendiri tercipta akibat terjadinya benturan berupa perkelahian antara dua ekor enggang, yaitu enggang jantan dan enggang betina yang sedang mencari dan memakan buah dari Pohon Kehidupan atau Batang Garing. Enggang betina mulai bergerak dari bawah pohon sedangkan enggang jantan bergerak dari puncak ke bawah. Ketika kedua enggang bertemu maka perkelahian hebat yang berakhir dengan matinya kedua burung tersebut setelah memporakporandakan Batang Garing. Bagian-bagian dari Batang Garing yang berserakan dan bertebaran dimana-mana kemudian memunculkan berbagai kehidupan termasuk manusia laki-laki dan manusia perempuan.

Dari wawasan dasar tentang kosmis tersebut, orang-orang dayak Ngaju menganggap bahwa kosmis ini akan selalu berisikan dua kekuatan yang bisa bertentangan dan berbenturan untuk kemudian membentuk suatu kehidupan baru. Benturan-benturan bukanlah hal yang dianggap menakutkan, sebaliknya dianggap sebagai kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Karena itu orang-orang Dayak harus selalu bersifat terbuka dan siap menanggung kesulitan-kesulitan yang terjadi, karena benturan-benturan antara kebudayaan dan tata nilai mereka yang lama dengan kebudayaan dan tata bilai baru yang mungkin saja sangat bertentangan dengan kebudayaan dan tata nilai tradisional mereka. Justru dengan memanfaatkan benturan-benturan tersebut orang-orang Dayak akan mampu menyusun suatu tatanan baru yang lebih sesuai dan yang memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka.

Batang Garing dan Bagian-bagiannya Sebagai Lambang, Pohon Batang Garing berbentuk tombak dan menunjuk ke atas. Pohon ini melambangkan Ranying Mahatala Langit. Bagian bawah pohon yang ditandai oleh adanya guci berisi air suci yang melambangkan Jata atau dunia bawah. Dengan demikian disampaikan pesan bahwa dunia atas dan dunia bawah pada hakikatnya bukanlah dua dunia yang berbeda, tetapi sebenarnya merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan.

Dahan-dahan pohon berlekuk sedemikian rupa untuk melambangkan Jata sedangkan daun-daun berbentuk ekor burung enggang. Di sini juga dilambangkan bahwa kesatuan itu tetap dipertahankan.

Buah Batang Garing ini, masing-masing terdiri dari tiga yang menghadap ke atas dan tiga yang menghadap ke bawah, melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Nunu. Sekali lagi diingatkan bahwa turunan manusia harus mengarahkan pandangannya bukan hanya ke atas, tetapi juga ke bawah. Dengan kata lain manusia harus menghargai Ranying Mahatala Langit dan Jata secara seimbang. Ditafsirkan menurut pengertian kontemporer, orang Dayak haruslah mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan keduniaan dan kepentingan akhirat.

Tempat bertumpu Batang Garing adalah Pulau Batu Nindan Tarung yaitu pulau tempat kediaman manusia pertama sebelum manusia diturunkan ke bumi. Di sinilah dulunya nenek moyang manusia, yaitu anak-anak dan cucu Maharaja Bunu hidup, sebelum sebagian dari mereka diturunkan ke bumi ini. Dengan demikian orang-orang Dayak diingatkan bahwa dunia ini adalah tempat tinggal sementara bagi manusia, karena tanah air manusia yang sebenarnya adalah di dunia atas, yaitu di Lawu Tatau. Dengan demikian sekali lagi diingatkan bahwa manusia janganlah terlalu mendewa-dewakan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

Pada bagian puncak terdapat burung enggang dan matahari yang melambangkan bahwa asal-usul kehidupan ini adalah berasal dari atas. Burung enggang dan matahari merupakan lambang lambang-lambang Ranying Mahatala Langit yang merupakan sumber segala kehidupan.

Read More......