Cara Warga Bukit Sungkai Memelihara Harmonisasi Dengan Alam Sembelih Sapi, Kepalanya Diarak Keliling Kompleks


Hubungan harmonis dengan alam semesta merupakan bagian dari kearifan local warga Dayak Kalimantan Tengah. Hal ini disadari sepenuhnya oleh warga yang bertempat tinggal di kawasan Bukit Sungai Jalan Tjilik Riwut Km 12. Saban tahun atau tepatnya dipenghujung tahun, warga selalu menyelenggarakan ritual memapas lewu.
Kegiatan bersih desa atau mamapas lewu itu merupakan Tolak Bala menjauhkan diri dari marabahaya. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan wujud rasa syukur sebanyak warga masyarakat secara umum, khususnya warga RT 06 RW II Kelurahan Petuk Katimpun Kecamatan Jekan Raya Palangka Raya.
Pada Minggu (27/11) kemarin sekitar pukul 09.00, kompleks pal 12 telah tampak berbagai kesibukan. Ritual Bersih Desa, Mamapas Lewu, Tolak Bala ini diikuti oleh ratusan warga.
Manir Adat Kecamatan Jekan Raya Cornelis Pith didampingi Herdiwang Thabat mengatakan arti dan tujuan dari memapas lewu adalah membersihkan kampung. Tujuannya adalah supaya kampong (Lewu,Red) itu menjadi bersih dengan niat membuang segala hal-hal yang tidak baik seperti sengketa, perkelahian dan lain sebagainya. Salah satunya sebagai tolak bala dari marabahaya.
“Segala hal-hal yang buruk kita buang jauh-jauh dan arti dari memapas lewu adalah kita bertekad satu dengan membuang hal-hal yang tidak baik,” Jelas Mantir. Acara memapas lewu pada tahun ini terbilang istimewa dari pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya menyembelih satu ekor kambing. Pada tahun ini yangdisembelih adalah satu ekor sapi. Setelah disembelih, kepala sapi yang digunakan sebagai media ritul adat diarak berkeliling kompleks. Selain kepala sapi, media lain yang mendukung acara ini adalah daun sawang warna merah, darah sapi, dan air kembang.
Kemudian diiring dengan tarian dan dua orang putri Dayak, Mantir adat selanjutnya menggenggam daun sawang dan menyuruh peserta meludah ke daun sawang. Sebelumnya mantir yang di sekelilingi warga membentuk formasi empat penjuru arah mata angin. Kemudian kepala sapi dikuburkan di salah satu lubang yang sudah disiapkan terlebih dahulu.
Acara mamapas lewu atau membersih kampong/Desa di pal 12 ini di hadiri oleh anggota komisi II Jumatni, Camat Jekan Raya sabirin Muchtar, Lurah Petuk Katimpun Berson, Ketua LKK Sukiran, Mantir Adat Cornelis Pith dan Herdiwang Thabat. Jumatni mengatakan, bahwa kegiatan memapas lewu ini sudah bagian dari tradisi di tiap tahunnya. “Dan tidak ada maksud tertentu kecuali ingin membersihkan diri demi keselamatan warga. Ini bagian dari tradisi yang tiap tahunnya dilakukan dan biasanya dilaksanakanbertepatan dengan tahun baru islam. Semoga dengan adanya kegiatan ini bisa memberikan keselamatan dan jauh dari marabahaya,” ujarnya.
Keterangan gambar: Mamapas Lewu. Seorang Mantir adat saat memimpin ritual mamapas lewu di kawasan Bukit Sungkai, kemarin.
Sumber: Kalteng Pos. Senin, 28 Nopember 2011. Hal : 9 & 12.

Read More......

Betang Toyoi, Simbol Kebersamaan dan Pluralisme


Betang adalah rumah adat Dayak yang terbuat dari kayu ulin. Rumah adat ini selalu dihuni oleh banyak kepala keluarga dan mengandung nilai-nilai sejarah kebudayaan asli Dayak Ngaju.
Di desa Tumbang Malahoi, tersisa satu betang yaitu Betang Toyoi. Betang Toyoi didirikan oleh seorang keturunan Bungan dan Burow, yaitu Toyoi bin Panji. Diprediksi betang ini didirikan pada tahun 1869. Nama Toyoi diberikan untuk menghormati pendirinya.

Betang Toyoi dibuat dengan bahan-bahan yang dikumpulkan dari bukit Takinding dan bukit Lambayung. Dikatakan sekitar 300 orang laki-laki dan perempuan dikerahkan Toyoi untuk mendirikan betang. Betang asli tidak menggunakan paku, hanya pasak dan simpul untuk menyambung bahan-bahan penyusunnya. Walaupun Betang Toyoi telah mengalami beberapa kali renovasi, keasliannya masih tetap terjaga.

Masuk ke dalam betang, kita langsung melihat ruang besar berukuran panjang sekitar 20 meter dan lebar 10 meter. Ada masing-masing empat kamar di kiri dan kanan pintu masuk. Dahulu, betang Toyoi bisa dihuni sampai puluhan orang. Saat ini, penghuninya tinggal enam keluarga yang kebanyakan perempuan tua yang ditinggal suaminya meladang. Kami memanggil mereka dengan 'tambi', nenek dalam bahasa Dayak. Di tengah ruangan terdapat empat buah tiang yang terbuat dari kayu ulin. Atap dan alas betang juga dibuat dari kayu ulin.

Di depan betang terdapat bangunan 'sandung', 'sapundu' dan tiang 'pantar' yang merupakan bangunan penting untuk menghormati keluarga yang telah meninggal dalam agama Hindu Kaharingan. Meskipun begitu, di rumah panjang itu sebenarnya terdapat pemeluk tiga agama, yaitu Islam, Kristen Protestan dan Kaharingan. Mereka hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain. Rumah betang Toyoi menjadi saksi bisu sekaligus simbol pluralisme, yang terjadi secara nyata di Tumbang Malahoi.

Melihat penampakan dan mengetahui sejarah betang Toyoi, kita akan kagum pada nilai-nilai sosial dan sejarah kebudayaan Dayak. Sayang sekali secara fisik betang Toyoi mulai rapuh. Terlihat titik-titik betang yang digerogoti rayap. Penghuninya pun semakin sedikit. Rasanya dibutuhkan peran aktif warga Dayak, secara khusus, dan kita warga Indonesia, secara umum, untuk menjaga warisan budaya bangsa ini dari kepunahan.

Keterangan Foto: Tampak Depan Betang Toyoi, Tumbang Malahoi, Kalteng.
Sumber: http://aci.detik.travel

Read More......

PENGELOLAAN LAHAN Masyarakat Adat Dayak Ngaju Terabaikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah merasa diabaikan dalam segala bentuk program pemerintah. Mulai dari zaman orde baru dengan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) Satu Juta Hektar 1996 hingga saat ini dengan program pengurangan emisi melalui deforestasi dan pencegahan kerusakan lahan (REDD+).
Ini belum termasuk berbagai proyek investasi kelapa sawit dan pertambangan. Semuanya dinilai merampas hak masyarakat adat Dayak Ngaju sebagai pemilik tanah secara turun-temurun.

Ini diungkapkan beberapa perwakilan Masyarakat Adat Dayak Ngaju yang didampingi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam temu dengan media, Senin (24/10/2011) di Jakarta.

Pekan lalu, mereka yang berasal dari 4 desa di kecamatan Mentagai Kabupaten kapuas Kalimantan Tengah, telah bertemu dan melayangkan keresahannya pada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Komisi IV DPR serta Badan Pertanahan Nasional.

Di situ, masyarakat menyampaikan kawasan bekas PPLG yang memiliki gambut sedalam 1-20 meter telah dikuasai oleh 23 perusahaan perkebunan sawit. Dari jumlah itu, 11 perusahaan dinyatakan tidak berizin seluas 380.000 hektar. Ini belum lagi proyek konservasi setempat yang dituding merampas hak dan akses masyarakat akan pemanfaatan hasil hutan.

"Kami mau tanah kami dikembalikan ke masyarakat," ucap Tanduk, tokoh masyarakat adat Dayak Ngaju. Nurhadi, anggota masyarakat Dayak Ngaju lainnya, mengatakan masyarakat desa tidak perlu diajari cara mengelola hutan. Mereka yang setiap hari tinggal di hutan, mengerti, jika hutan dijaga, maka kehidupan mereka pun terjamin.

Masyarakat Dayak Ngaju memiliki zonasi dalam hukum adatnya. Yaitu, hutan Pahewan yang merupakan kawasan keramat atau terkait ritual adat dan dilindungi. Hutan Sahepan, dipergunakan untuk masyarakat berburu dan beraktivitas mencari kulit kayu, lateks, dan obat-obatan. Hutan Kaleka untuk perladangan/perkebunan.

Ichwan Susanto | Robert Adhi Ksp | Senin, 24 Oktober 2011 | 14:01 WIB

Keterangan foto: Masyarakat Dayak mulai menanam padi ladang (nugal) di lahan yang baru saja selesai dibuka dengan cara membakar. Mereka masih mempraktekkan sistem perladangan berpindah, dalam satu siklus, mereka akan kembali ke lahan yang pernah mereka tanami 6-7 tahun sebelumnya (KOMPAS/AGUSTINUS HANDOKO).

Sumber: http://regional.kompas.com
Sumber foto: http://assets.kompas.com

Read More......

Dayak yang Belajar dari Kehidupan


Bagi orang Dayak, warna tidak sekedar memberikan nuansa variatif. Warna babilem, baputi, bahijau, bahenda dan bahandang merupakan hasil penjelajahan melewati limit alam akali.
Babilem (hitam), memberi kekuatan bersembunyi di kegelapan. Dalam bahasa Dayak Ngaju disebut “salatutup”. Ketika ada orang mati, agar bayi tidak terlihat oleh roh-roh jahat dan atau melihat roh-roh jahat, diambillah “sale pahe” (jelaga) untuk dioleskan pada alis bayi. Konon dilakukan pada waktu sore hari menjelang malam, yaitu saat diyakini bahwa roh-roh jahat sedang keluar menghampiri orang mati dan akan membuat “sawan” (ketakutan) pada bayi. Ada yang mengatakan bahwa “salatutup” bagi orang Dayak, terobsesi dari kebiasaan burung “Taktahau” bersarang di tanah dan tidak pernah terusik adanya ular. Burung “Taktahau” bersuara pada sore hari (ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat) dijadikan pertanda datangnya malam. Burung tersebut terbang seliweran di atas danau dan sungai di Kalimantan Tengah dan dapat dilihat ketika naik perahu pulang dari ladang.

Baputi (putih); tidak saja bermakna kesucian tetapi juga bermakna ketulusan. Di dalam acara “membuyu” (laki-laki ditinggal mati oleh istrinya) atau “mambalu” (perempuan ditinggal mati oleh suaminya) dikenakan lawung atau tudung kepala berwarna putih. Masing-masing dengan tulus melepaskan yang pergi dan meski “buyu” (duda) atau “balu” (janda), tetap hidup dalam kesucian. Warna putih diambil dari warna “ketuk” (kapur sirih) - terbuat dari tulang atau kerang yang dibakar. Ketuk (kapur sirih) digunakan “melampinak” (menandai) “cacak burung” (white cross) pada daun sawang (lumpiang) yang digunakan pada ritual tertentu. Pada saat memasak ketan, “cacak burung” (white cross) ditandai di panci, menandakan makanan bersih dan untuk manusia (menghindari “puji liau”).

Bahijau (hijau), daun tumbuhan hidup. Ada kehidupan. Ketika ada orang sakit, tak jarang di bawah tubuh yang terbaring sakit, ditemukan “dawen kayu belum” (daun kayu hidup atau daun segar) yang digunakan untuk mengelabui roh-roh jahat yang berniat mengganggu si sakit atau mengganggu orang yang sedang membawa jenazah.

Bahenda (kuning), kemuliaan dalam suasana batin orang yang rendah hati. Bersumber dari “henda” (kunyit). Membedakan mahluk manusia dengan mahluk gaib ketika berlangsung ritual tertentu, bahwa manusia merupakan mahluk berkedudukan tinggi di antara mahluk lain ciptaan Tuhan, tumit dioles dengan air kunyit.

Bahandang (merah), keteguhan sebuah prinsip. Ketika berperang menggunakan ikat kepala warna merah, Isen Mulang, bersumber dari warna merah “bua jarenang” memberi inspirasi patriotisme, diadopsi menjadi mamut, menteng, ureh demi kecintaan kepada hidup.

Ada pendapat mengatakan bahwa jati diri atau identitas adalah suatu ciri diri sebagai manusia, baik dilihat secara individual atau pun kolektif. Agresi kebudayaan terhadap Dayak terus berlanjut dan jika Dayak tidak membangun ketahanan budaya akan kehilangan jati diri (Tempun Petak Manana Sare). – Terbilang sebagian besar menguasai tanah berdasarkan Surat Keterangan Tanah (SKT) dan hanya sebagian kecil memiliki tanah berdasarkan sertifikat.

Membangun ketahanan budaya tidaklah sulit selama hubungan kekuasaan politik dengan penggiat kebudayaan di lapangan tidak terputus. Di sisi lain, kendala membangun ketahanan budaya disebabkan terputusnya rantai kehidupan di masa lalu.

Hubungan antara kekuasaan politik dengan penggiat kebudayaan di lapangan akan dikatakan hidup ditandai dengan antara lain adanya dialog. Tidak kaget berhadapan dengan berbagai pendapat silang siur yang muncul ketika dialog berlangsung. Tidak semua pendapat dan usul yang terkadang sulit dicari dasar logikanya dan terkadang mengundang debat, disepelekan. Sikap menyepelekan bisa menggagalkan upaya menstrukturisasi ide dan gagasan. Sikap menyepelekan bisa mengecilkan nyala api politik kebudayaan. Jangan menjadi orang Dayak menyepelekan debat karena menganggap debat “dia tau jadi behas”.

Berdebat dengan senantiasa berpijak di atas kerangka berpikir yang sehat (logis). Alasan (justifikasi) harus dilengkapi dukungan aspek hukum dan data yang akurat serta diuraikan secara ringkas, padat, spesifik dan terukur. Mencerminkan kebijakan, manfaat dan dampak serta merupakan implementasi dari pelaksanaan kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh mereka yang kita pilih menjadi pemimpin kita. Jangan mengkritisi lebih disebabkan untuk melampiaskan sakit hati. Tampakkan pada dunia bahwa Dayak pintar harati-kapintar maukir petak mangarawang langit. Orang Dayak menghindari ada dendam dan jika ada dendam di antara mereka, segera dilakukan upacara ritual manetes hinting bunu (memutuskan dendam).

Belajar dari kehidupan telah dilakukan oleh Dayak yang menghuni pulau Kalimantan, turun temurun. Dayak menempatkan kehidupan pada posisi penting. Orang Dayak dahulu dikenal memiliki nilai-nilai religiusitas yang tinggi. Mereka percaya pohon, batu, air dan segala yang ada di hutan memiliki kekuatan. Tidak salah bila World Wildlife Fund (WWF) melaporkan bahwa di Kalimantan terdapat 10 spesies primate, 350 spesies burung, 150 spesies reptil dan amfibi serta lebih dari 10 ribu spesies tanaman yang tidak ada ditemukan di tempat lain. Jika tidak percaya laporan tersebut, silahkan menjelajah hutan Kalimantan melalui kegiatan special interest tourism. Pandangan bahwa untuk hidup harus bersumber dengan segala sesuatu yang hidup dan atau memberi kekuatan hidup, selanjutnya menjadi perilaku orang Dayak sekaligus merupakan hasil belajar dari kehidupan.

Dalam konteks kegiatan melestarikan lingkungan hidup, dapat dikatakan bahwa orang Dayak cinta lingkungan hidup dan mengedepankan kebijaksanaan dan kearifan di dalam mengelola hutan dan lahan pekarangan. Kecintaan orang Dayak pada lingkungan hidup antara lain ketika mengambil akar kayu untuk obat, dilakukan ritual yang menjadi semacam ciri diri Dayak.

Adakah demikian kecintaan mereka pada hidup hingga sekarang ini?

Keterangan foto: warna-warna pada ukiran Dayak Kaltim
Oleh: KARDINAL TARUNG (Penulis Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng)
Sumber: http://media.hariantabengan.com
Sumber foto: http://3.bp.blogspot.com

Read More......

Kearifan Local Dayak Ot Danum


Dari ratusan suku Dayak di Kalimantan, salah satunya adalah Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah. Masyarakat adat Dayak dekat dengan alam dan sangat menghormati tradisi leluhur untuk menjaga keseimbangan manusia dan alam sekitarnya.
Menghadapi musim kemarau berkepanjangan tahun ini Dayak Ot Danum melakukan ritual meminta hujan. Berikut salinan berita yang muat di Koran Kalteng Pos tertanggal 3-5 September 2011, halaman 1 dan 4.
“Melihat Ritual Meminta Hujan Suku Dayak Ot Danum Kalimantan Tengah. 1,5 Jam Tak Boleh Bicara”
Sudah tiga minggu terakhir ini, masyarakat Kalteng harus berjibaku dengan asap yang berdampak buruk bagi kesehatan. Kabut asap berasal dari hutan, lahan dan pekarangan yang dibakar orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Banyak pihak yang memberi perhatian khusus terhadap musim kemarau ini. Salah satunya kerukunan warga Dayak Ot Danum Kalteng. Mereka melakukan ritual meminta hujan.
Waktu masih menunjukan pukul 06.55 WIB. Dengan mengambil start dari rumah jabatan Ketua Kerukunan Ot Danum Dr. Siun Jarias di jalan M.H. Thamrin Palangka Raya, seluruh peserta ritual siap berangkat menuju tempat yang ditentukan, yakni di tempat sungai Kahayan di wilayah Kelurahan Pahandut Seberang.
Hanya perlu waktu sekitar sepuluh menit melewati jembatan Kahayan, kami sampai di lokasi. Dengan di pimpin seorang Basir (pemimpin upacara, Red), seluruh peserta ritual meminta hujan yang terdiri atas sembilan orang melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai Kahayan dengan kelotok (kapal kecil bermotor,Red) dan sisanya menunggu upacara selesai.
Nyaluh Ondou. Demikian masyarakat Dayak Ot Danum memberi nama ritual dimulai dengan mengambil air dan pasir dari tepi sungai Kahayan yang dilakukan oleh Basir diiringi dengan mengucapkan beberapa kalimat doa. Setelah itu, kami melanjutkan lokasi ritual yang posisinya agak masuk ke dalam hutan, sekitar 500 meter dari tepi sungai.
Sejak awal, kami sudah diingatkan untuk tidak berbicara sama sekali, bahkan berbisik-bisik sekalipun. Menurut penuturan salah satu peserta, saat dilakukan ritual, akan banyak mahluk gaib yang akan berkumpul dan berdoa Kepada Sang Pencipta dan memakan roh dari seluruh persembahan.
“Takutnya, nanti salah-salah bicara dan ada yang tidak berkenan sehingga mengganggu upacara”, tutur salah satu peserta sambil berbisik. Lokasi prosesi meminta hujan tersebut tampak rimbun oleh tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon rendah. Basir lalu memulai aktivitasnya dengan mencari beberapa kayu pohon untuk dijadikan tempat meletakkan persembahan yang terbuat dari tempat menganyah beras (tampah, Red) yang bertingkat dua.
Selanjutnya, basir meletakan satu persatu persembahan yang dibawa, mulai dari empat buah garam balok di bagian bawah dan lima gundukan pasir di sela-sela balok garam tersebut. Gundukan pasir dibuat mengerucut. Tak lupa pula diletakkan beberapa uang koin dan telur masak di sekitarnya.
Salah satu peserta kemudian mengeluarkan bambu yang di dalamnya sudah berisi beras dan ketan. Bagian atasnya diletakkan telur dan lima batang rokok ditaruh menggelilingi telur. Tiga daun raja diambil sebagai alas ayam rebus yang diletakkan di bagian atas tempat persembahan. Di sekitarnya ditaruh empat butir telur yang dikelilingi tiga balok garam dan empat batang rokok. Sekitar 30-an kue yang yang terdiri dari kue apam, cucur, kue cicin, dan kue pare-pere melengkapinya.
Selanjutnya, oleh sang Basir, tiga gundukan pasir diletakkan di sekitar sesajen tersebut yang juga dibuat meninggi seperti gunung dengan meneteskan pasir yang bercampur air. Kami satu persatu secara bergantian meletakkan dan membuat gundukan pasir di tampah bagian atas.
Setelah sekitar satu setengah jam kami tidak berbicara, basir selesai membaca doa dan permintaan. Kami kembali ke tepi sungai dengan cara berlari sesuai dengan arahan basir. Sesampainya di tepi sungai, basir melepaskan seekor ayam jago yang harus kami tangkap. Akhirnya salah satu dari kami berhasil menangkap ayam jago tersebut. Kami lalu kembali menyeberang sungai dengan mengunakan kelotok dengan posisi menghadap ke depan.
“Memangil Tiga Malaikat Penguasa Hujan”
Sebelum dilaksanakan ritual utama pada Senin (29/8) pagi, Basir (pemimpin upacara,Red) dan sejumlah anggota kerukunan suku Dayak Ot Danom, sebenarnya telah melakukan ritual permulaan. Di antaranya pengecekan Sangkarayan Nyalu (Lokasi Upacara,Red), serta penaburan beras kuning dan merah, sebagai penyampaian pesan awal permintaan hujan.
Sore, sekitar pukul 17.06 WIB, sehari sebelum ritual utama Nyaluh Ondou di tepi sungai Kahayan. Basir Damek yang memiliki kemampuan titipan orang tua (leluhur) untuk meminta hujan kepada sang pencipta telah melakukan beberapa ritual pembuka. Ia bersama dua orang warga Ot Danum, Bardi dan Suryadi melakukan ritual pembuka, yakni penaburan beras merah dan kuning. Hal ini dilakukan sebagai pemberian pesan awal kepada sang pencipta dan ketiga Rajan (malaikat;red) penguasa hujan, bahwa mereka hendak meminta hujan diturunkan di Palangka Raya, dalam rangka memadamkan kebakaran hutan, lahan dan pekarangan yang menyebabkan kabut asap di Kalteng.
“Pesan awal kita pada sore ini, diterima dengan baik oleh sang pencipta dan ketiga rajan. Terbukti degan mulai diturunkannya hujan di Palangka Raya, meski tidak terlalu lebat. Namun, cukup sebagai tanda diterimanya keinginan kita untuk meminta hujan,” tutur Damek kepada Kalteng Pos, Sabtu (3/9) siang.
Ketiga rajan/ malaikat bersaudara tersebut, dituturkannya, adalah Raja Gamala Raja Tenggara (penguasa kilat), Raja Janjulung Tatu Riwut (penguasa angin) dan Raja Sangkaria Anak Nyaru (Penguasa Petir). Ketiganya merupakan penguasa hujan yang hendak diminta bantuan untuk menurunkan hujan di Kalteng.
“Mereka tersebut sebenarnya tujuh bersaudara. Namun, yang kita minta hadir pada saat ritual minta hujan, hanya tiga di antaranya yang menguasai hujan,” tuturnya. Bermacam sesembahan memang merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam ritual tersebut, diantaranya beras ketan, telur, rokok, uang logam, 40 jenis kue yang berbeda bentuk, garam balok, ayam masak, dan beberapa sesajian (persembahan;red) lainnya. “Semua persembahan itu diberikan kepada ketiga saudara penguasa hujan yang di Kalteng tersebut. Sedangkan gundukan pasir yang ada, merupakan tempat duduk bagi para malaikat tersebut, saat ritual Nyaluh Ondou berlangsung,” tuturnya.
Sementara itu, ayam yang sempat diperebutkan usai ritual utama, malam harinya sudah mati dengan sendirinya. “Sebenarnya ayam itu merupakan Sepak Tiak (peliharaan sang malaikat) yang diberikan oleh warga Ot Danum Kalteng. Dan sudah dijemput pada malam harinya. Namun, sempat berkokok 12 kali sebelum ayam tersebut mati,” tutur Bardie yang mendapatkan ayam tersebut.
Menakjubkan, malam hari setelah dilaksanakan ritual meminta hujan tersebut (29/8), permohonan dari warga Ot Danum kepada sang pencipta dengan melaksanakan ritual Nyaluh Ondou terkabulkan. Hujan mulai turun di Kabupaten Kapuas dan Gumas Mas dengan lebatnya. Kemudian besok harinya Selasa (30/8) disusul hujan lebat yang terjadi di Palangka Raya, dan sejumlah kota-kota lainnya, hingga sekarang.
“Hujan Pun Turun Dengan Lebatnya”
Secara umum tradisi suku Dayak di Kalteng yang berupa upacara ritual dibagi menjadi menjadi dua bagian yakni ritual kehidupan dan kematian. Nyalu Ondou (ritual meminta hujan suku Dayak Ot Danum kepada Sang Pencipta melalui bantuan tiga rajan/ malaikat penguasa hujan) merupakan bagian dari ritus kehidupan.
Kalteng merupakan daerah yang memiliki beraneka ragam tradisi yang berasal dari budaya suku Dayak. Suku Dayak sendiri berbagi menjadi subsuku seperti Ot Danum, Ma’ayan, Lawangan, Siang, Taboyan, dan subsuku lain yang memiliki keunikan tradisi tersendiri.
Nyaluh Ondou yang dilakukan suku Dayak Ot Danum hanya sebagian kecil dari banyaknya ritual dan upacara adat yang dilakukan suku-suku Dayak di Kalteng masih banyak upacara ritual yang ada di Bumi Tambun Bungai ini. Secara Umum dikenal lima upacara yang bersifat besar dan melibatkan banyak orang serta dana yang tidak sedikit.
Lima upacara ritual besar tersebut di antaranya adalah upacara Tiwah yang merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalteng, khususnya Dayak di pedalaman penganut agama Hindu Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak. Kemudian ada upacara Pakanan Sahur Lewu yang berarti memberikan sesajen kepada para leluhur atau para dewa yang melindungi warga desa/ kampung sebagai tanda terima kasih atas berkat dunia.
Selanjutnya, Kalteng juga memiliki upacara Ritual Nahunan, yakni upacara memandikan bayi secara ritual menurut kebiasaan suku Dayak Kalteng. Tujuan uamanya adalah pemberian nama sekaligus pembabtisan menurut Hindu Kaharingan kepada anak yang baru lahir. Selain itu, ada upacara Manyanggar yang diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan mahkluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.
Terakhir adalah upacara ritual Pakahan Batu, yakni ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau sawah. Upacara Pakanan Batu ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen.
“Selain mengatasi masalah kebakaran hutan, lahan, dan pekarangan yang terjadi di Kalteng, tujuan kita melaksanakan ritual tersebut untuk mempertahankan budaya Dayak Ot Danum yang dimiliki nenek moyang warga Ot Danum dari 60 subsuku warga Ot Danum di seluruh Indonesia,” terang Ketua Kerukunan warga Ot Danum Kalteng, Dr. Siun Jarias kepada Kalteng Pos, Sabtu (3/9) siang.
Nyalu Ondou, lanjutnya pria yang merupakan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalteng tersebut, hanya merupakan salah satu upaya pihaknya untuk menjaga tanah kelahirannya dari kehancuran. Patut disyukuri, usai dilakukan upacara ritual pembuka dan utama, Senin (29/8) pagi, hujan pun turun dengan lebat disejumlah kabupaten/ kota di Kalteng.
“Kami berharap, hujan yang diturunkan Sang Pencipta ini bisa memadamkan kebakaran hutan dan lahan serta menghentikan kabut asap di Bumi Tambun Bungai ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Kerukunan Warga Ot Danum Kalteng, Guntur Talajan, SH M.Pd menyampaikan, ritual meminta hujan Ot Danum tersebut merupakan bentuk kearifan local yang wajib dilestarikan. “Sudah sewajarnya orang tua memiliki kewajiban untuk untuk memberi pembelajaran kepada anak-anak dan generasi penerusnya. Talenta dan apa yang dimiliki, jangan didiamkan saja, wariskanlah kepada anak cucu kita sehingga lestari budaya kita, tidak hilang,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kalteng tersebut menuturkan, sebenarnya masih banyak lagi kearifan local yang dapat diterapkan dalam kehidupan ini, diantaranya adalah upacara Mengayau Danum. Upacara tersebut biasanya dilakukan saat banyak orang yang mati tengelam di air atau sungai sehingga dibalas air itu dengan mengayaunya dengan harapan tidak ada orang yang mati tengelam lagi.
“Upacara ini pernah kita lakukan di Desa Mungku Baru, Rakumpit, waktu zaman Pak Tuah Pahoe karena ada beberapa kejadian warga meninggal karena tengelam. Akhirnya sampai sekarang tidak ada yang meninggalkan lagi karena tengelam. Jadi, mari kita sama-sama kita pertahankan budaya dan kearifan local yang kita miliki ini,”.

Keterangan foto: Basir, melakukan pengambilan air dan pasir dari tepi Sungai Kahayan sebagai salah satu syarat utama sesembahan ritual meminta hujan Dayak Ot Danum.

Read More......

Acara Adat Sambut Menhut dan Dubes Australia

Tribunkalteng.Com, Palangkaraya - Seperti Dijadwalkan, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan Dubes Australia untuk Indonesia Greg Moniarty, Kamis (15/9/2011) pagi, menginjakkan kakinya di bumi Tambun Bungai Palangkaraya. Namun sebelum melanjutkan sejumlah acara, kedua pejabat negara itu disambut acara adat.

Dipandu seorang damang, beberapa acara adat khas Kalimantan Tengah yang dilalui Zulkifli dan Greg adalah pemecahan telur, potong pantan, serta minum air Kahayan.

"Saya senang bisa datang ke sini dan berharap bisa memperkuat hubungan kerja sama Indonesia-Australia," ujar Greg.

Pernyataan Greg berbahasa Indonesia dengan fasih dan lancar sempat membuat mereka yang menyambut rombongan tamu, geli. Karena sejak awal kedatangan, petugas selalu menerjemahkan ucapan pelaksana dalam terjemahan bahasa Inggris.

Kunjungan menhut dan Dubes Australia ke Kalteng dilakukan dalam rangka meninjau pelaksanaan kerja sama kehutanan bidang perubahan iklim. Dalam agendanya, menteri meninjau lokasi pembibitan di Mangkutub dan berdialog tentang program Kalimantan Forest Climate Partnership (KFCP) yang dilaksanakan sejak 2010 di tujuh desa dalam wilayah Kecamatan Mantangan dan Timpah, Kabupaten Kapuas.

mustain khaitami/tribunkalteng)

Penulis : Mustain Khaitami
Editor : didik_trio
Sumber: http://kalteng.tribunnews.com

Read More......

TAK RELEVAN, RUMAH DAYAK MAKIN BERKURANG


PALANGKARAYA, KOMPAS.com — Jumlah betang atau rumah khas suku Dayak yang menjadi hunian bersama di Kalimantan Tengah terus berkurang drastis. Banyaknya penghuni betang yang keluar kemudian membangun rumah sendiri menjadi penyebab susutnya jumlah betang.
Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalteng, Sabran Achmad, di Palangkaraya, menuturkan, daerah-daerah yang dulu memiliki betang, misalnya Desa Bahaur, Kecamatan Kahayan Kuala dan Desa Pangkoh, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, serta Kuala Kurun, ibu kota Kabupaten Gunung Mas.

Pada tahun 1957, saat Kalteng baru terbentuk menjadi provinsi, jumlah rumah betang ditaksir sudah tak lebih dari 100 unit. Padahal, pada abad ke-17, jumlah betang di Kalteng masih ribuan unit. Setelah itu, pembangunan Kalteng digencarkan, termasuk pengadaan jalan-jalan ke berbagai pelosok provinsi.

Kondisi itu membuat penduduk lebih mudah menyebar, termasuk keluar dari betang. Kini, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, jumlah betang di Kalteng sudah berkurang menjadi hanya 42 unit.

Akses jalan semakin baik juga memicu masuknya pendatang yang tak mengenal budaya hidup bersama dalam satu rumah sehingga memberikan pengaruh kepada masyarakat Dayak.

Betang yang masih ada antara lain bisa ditemukan di Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu, serta Desa Tumbang Malahui, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas. "Dulu, betang bisa dihuni 60 keluarga. Kini, jumlah penghuni betang paling banyak 10 keluarga," katanya, Selasa (5/4/2011) lalu.

Rumah yang ditinggalkan lambat laun tak terurus hingga akhirnya hilang. Menurut Sabran, rumah betang memang tak relevan lagi dengan kehidupan saat ini. "Ketinggian lantai betang dari tanah bisa mencapai 4 meter. Anak-anak misalnya, bisa jatuh dan terluka," katanya.

Selain itu, ketinggian untuk menghindari serangan satwa liar serta musuh dari suku lain sekarang sudah tak perlu dirisaukan lagi. "Tak bisa dihindari jika banyak betang menghilang. Akan tetapi, perlu diingat dalam kehidupan di betang sebenarnya terdapat falsafah hidup," tutur Sabran.

Falsafah itu yakni kerukunan, kesetaraan, kejujuran, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu yang harus dilanjutkan masyarakat Dayak dalam kehidupan saat ini. "Saya lihat, nilai-nilai itu masih dianut kuat meski masyarakat tak lagi tinggal di betang," katanya.

Kepala Bidang Sejarah Purbakala Disbudpar Kalteng Bambang Daryadie mengatakan, setiap betang yang termasuk bangunan cagar budaya memiliki juru pelihara yang merawat rumah itu. Jika betang sudah mulai rusak, juru pelihara bisa mengajukan proposal.

"Supaya betang bisa diperbaiki, proposal bisa diajukan ke Disbudpar kabupaten/kota atau provinsi. Jalan rusak di sekitar betang juga bisa diusulkan untuk diperbaiki," katanya.

Bahkan, menurut Edy, Gubernur Kalteng Teras Narang mendorong agar juru pelihara tak sungkan mengajukan permintaan perbaikan betang.

Ketua Presidium Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalteng M Usop mengatakan, sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, bangunan betang yang sudah berusia lebih dari 50 tahun seharusnya dirawat dengan biaya dari pemerintah.

"Juru pelihara betang juga seharusnya dibina sehingga mereka tahu cara untuk menarik wisatawan datang lewat pameran, upacara adat, atau mengadakan tari-tarian," katanya.

Sumber: http://regional.kompas.com
Sumber foto: http://stat.k.kidsklik.com

Read More......

SANG PENJAGA HUTAN

KBR68H - Siapa sangka hutan adat yang begitu lebat di Desa Sahan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat justru dilestarikan oleh bekas pembabat hutan. Mayoritas warga desa yang dulunya penebang liar, kini bahu membahu mempertahankan kelestarian hutan. Ancaman kini datang dari pemodal dan perkebunan sawit. Kontributor KBR68H Heriyanto menemui Damianus Nadu, bekas pembalak yang menggagas status Hutan Adat seluas 200 hektar dan memimpin perlawanan terhadap pembalakan liar.

Damianus Sang Penjaga Hutan

Bekas pembalak
Damianus Nadu berjalan cepat masuk ke dalam hutan. Sesekali dia menebaskan parangnya, membuka jalan agar mudah dilalui. Dedaunan masih basah oleh hujan semalam. Sepanjang perjalanan, suara burung terdengar bersahutan. Hutan ini sangat lebat. Ada banyak pohon-pohon besar menjulang tinggi. Butuh sedikitnya lima orang untuk memeluk batang pohon di sini.

Hutan inilah yang dijaga oleh Damianus Nadu, 47 tahun, tokoh masyarakat Dusun Melayang, Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Damianus adalah bekas pembalak liar yang berinisiatif mempertahankan hutan adat seluas 200 hektar itu. “Saya berusaha mempertahankan hutan itu demi anak cucu nanti. Sehingga kalau dilihat daerah-daerah sekitar hutan, sudah tidak ada lagi oleh perusahaan kayu. Saya khawatir dan kasihan sekali melihat anak cucu nanti. Kalau mereka mengenal jenis-jenis tanaman seperti bengkirai, kapur dan lain sebagainya, mereka hanya mengenal nama saja.”

Siapa sangka, dulu Damianus adalah penebang kayu paling handal, menjadikan aktivitas ini sebagai pemasukan utamanya. Namun ia mengaku tak tenang. Merasa bersalah lantaran nenek moyangnya dulu menjaga hutan, tapi ia justru menebanginya. “Dua hari itu saya bisa mencetak 2 truk,” kata Damianus. Tapi begitu ia berpikir bahwa hutan semakin habis, ia mulai sadar. Sejak awal 2000-an, aktivitas ini mulai dikurangi. “Kalau kita cerita tentang manusia ya, kalau pohon ditebang itu kan pohon nangis. Jadi ada rasa kasihan.”

Kesadaran ini semakin tebal seiring Damianus melihat luas hutan terus berkurang. Baik oleh pembalak liar seperti dirinya, atau oleh perusahaan legal. Hutan di desanya kini nyaris tak tersisa, hancur sekitar 80 persennya. Yang tersisa hanya hutan di sisi timur desa. Damianus khawatir hutan itu bakal ikut punah. Karenanya, hutan itu lantas ditetapkan sebagai hutan adat.

Hutan Pengajit

Hutan adat ini diberi nama Pengajit, dikukuhkan pada 2002 silam oleh Bupati Bengkayang saat itu, Yacobus Luna. Penetapan itu atas ausul Damianus yang merasa perlu ada aturan bersama demi mempertahankan hutan adat yang terancam pembalakan liar. Kepala adat Dusun Melayang, Evodius Andong adalah orang yang mendukung upaya ini. “Pak Nadu punya inisiatif. Bagaimana jalan keluar supaya kita lebih kuat mempertahankan hutan. Maka ini dijadikan sebagai hutan adat.”

Demi menjaga hutan, setiap hari Damianus Nadu keliling hutan memastikan tak ada yang mencuri kayu di sana. Tugas ini juga dibebankan pada warga lain, terutama para pemuda. Bila ada orang yang mencuri kayu warga tak segan menangkapnya. Warga memang dilarang tebang kayu tanpa izin. “Boleh dipakai dan dipergunakan penduduk setempat, dengan catatan dia pergunakan yang sudah tumbang atau yang sudah mati. Saya tidak akan pernah izinkan menebang sesuka hatinya.”

Kalau tertangkap basah mencuri atau menebang pohon tanpa izin, siap-siap saja kena denda adat. Si pencuri harus membayar 3 kali lipat harga kayu yang ditebang. Kayu disita, sementara uang hasil denda itu akan disimpan di kas kampung, digunakan untuk menjaga hutan. “Misalnya kalau mereka menebang kayu tanpa lapor, maka bisa kita hukum. Apalagi kalau dia menjualnya lagi ke luar Bengkayang, berarti itu sudah ada kaitan dengan bisnis, sehingga kita hukum.”

Aturan ini terus ditegakkan, meski tak mudah melakukannya di masa-masa awal. Banyak warga merasa dirugikan karena tak boleh lagi tebang pohon. Menurut Ateh, pemuda desa setempat, tak mudah mengubah pandangan ini. Namun aturan terus ditegakkan dan diperkenalkan lewat berbagai pertemuan desa. “Kalau kita habiskan hutan itu, apalah yang kita lihat? Sekarang kita bisa lihat pohon-pohon besar. Kalau itu dibabat, mungkin hanya cerita atau dongeng yang kita dapatkan.”

Kehadiran sungai-sungai ke arah desa seolah jadi pengingat warga. Karena Hutan Adat Pengajitlah, sumber air tetap terjaga. Lebatnya hutan juga menghalau angin kencang dan banjir. “Keberadaan hutan itu bukan hanya untuk manusia saja, tapi juga sebagai sumber air, menahan erosi. Angin pun terpental di situ karena hutan masih lebat.”

Sumber air warga desa

Ancaman untuk hutan adat

Desa Sahan terletak di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Mayoritas penghuninya adalah Suku Dayak Bekatik. Sisanya pendatang, terutama para transmigran Jawa. Hutan Adat Pengajit berada 3 kilometer di sebelah timur desa.

Hutan ini menyediakan bibit beraneka ragam jenis pepohonan, seperti kayu Ulin, Gaharu, atau Masang. Karenanya hutan sering jadi sasaran penelitian berbagai industri, terutama kalangan akademisi, kata Ateh. Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat ikut meneliti bibit tanaman dari Hutan Ada Penganjit.

Ancaman pertama justru datang dari warga. Tak mudah meyakinkan warga untuk tak lagi menebang pohon sesuka hati. Damianus Nadu, bekas pembalak yang mengggas hutan adat ini, kadang harus berhadapan dengan warga yang bandel. “Kita kadang dibenci karena kita bertindak keras, berperilaku keras. Orang yang tidak senang kepada kita kadang dendam dan sebagainya. Itu kan bagian daripada rintangan dan tantangan,” kata Nadu

Pengusaha kayu mulai mengincar kayu-kayu bernilai tinggi dari Hutan Adat Pengajit. Kata Damianus, ia pernah ditawari 5 miliar rupiah oleh pengusaha untuk menyerahkan hutan adat seluas 200 hektar ini. Namun Damianus menolak. “Karena kalau takut sedikit saja, sudah habis kita. Karena kita ini orangnya sendiri kan? Sementara yang kita hadapi itu kan masyarakat yang beragam dan bermacam alasan dan kepentingan. Makanya harus berani dan tegas.”

Pada tahun 1980-2000, pembalakan liar marak terjadi di Kalimantan Barat, termasuk di Kabupaten Bengkayang. Orang dengan mudah menebang kayu karena tidak tegasnya aturan hukum. Kayu-kayu hasil pembalakan liar banyak yang diselundupkan ke Malaysia, cerita Damianus Nadu.

Ancaman lain adalah ekspansi kebun kelapa sawit. Survei WALHI Kalimantan Barat menunjukkan kalau lingkar luar desa sudah mulai dimasuki kebun sawit. Aktivis WALHI Sumantri menemukan bukti perambahan di Hutan Ada Pengajit di batas hutan di sebelah timur. “Setelah diukur dengan GPS, kerusakan tersebut mencapai 2000 meter persegi.”
Sejak tahun lalu, warga menghadang masuknya perusahaan kebun sawit, tak rela hutan adat dan wilayah desa mereka dirampas. Alat berat untuk mengerjakan lahan dilarang masuk ke kawasan desa. Hendra Laban, seorang pemuda setempat, termasuk satu diantara warga yang menolak. “Kami tidak mau tanah kami digusur tanpa sepengetahuan kami. 100 persen tidak mau terima.”

Warga sampai harus berdemo karena perusahaan sudah membersihkan lahan dengan alat-alat berat. “Akhirnya terjadi penembakan. Penembakan itu ada yang ke atas, beri peringatan. Tapi semua masyarakat membawa senjata api semua, termasuk mandau.”
Sejak itu, tak ada lagi pengusaha kebun sawit yang berani mendekati Hutan Adat Pengajit.

Warga menjaga hutan untuk kepentingan mereka sendiri. Sampai saat ini tak sepeser pun bantuan diterima dari pemerintah setempat. Misalnya, untuk kesediaan warga menjadi penjaga hutan. Kepala Adat Evodius Andong mengatakan, usul itu pernah diajukan ke Pemda, tapi lenyap begitu saja. “Kami dulu punya ide begitu. Satu atau dua orang menjaga hutan Pengajit, mereka itu diberi honor untuk menjaga hutan dari si pencuri kayu dan sebagainya. Mereka bilang nanti bisa, tapi setelah kami tanya di sana, dananya belum ada....”

Hutan Adat Pengajit tak bisa lepas dari Damianus Nadu. Bekas pembalak yang jadi pelindung hutan.

Sumber berita dan foto: http://www.kbr68h.com

Read More......

DEKLARASI HUTAN ADAT DAHAS BOLAU


Seekor babi dan ayam sudah disiapkan di sekitar tugu tempat deklarasi hutan adat Dahas Bolau di Tapin Bini, Lamandau Kalteng. Kedua binatang ini akan diambil darahnya untuk Mambia Tanah oleh Damang kecamatan Lamandau Tjangkal Sepenar. Tidak ketinggalan pula tuak, beras kuning dan ancak yang terbuat dari bambu dan alat bahan kelengkapan adat lainnya. Acara adat ini dilaksanakan oleh masyarakat adat Dayak Tomun, sebelum deklarasi hutan adat keesokan harinya, tujuannya adalah untuk menimang tanah agar tidak diganggu gugat oleh manusia yang ingin merusaknya.

Sebanyak 50 orang lebih turut menghadiri deklarasi hutan adat ini. Tidak hanya dari desa Tapin Bini yang ikut, dari desa Sekoban dan Bokunsu juga terlihat hadir. Dari pemerintah desa tampak hadir Lurah Tapin Bini, Yusmin. Namun, dari pihak perusahaan maupun dinas terkait tidak terlihat. “Dari perusahaan itu entah salah komunikasi, sehingga tidak ada yang hadir. Pada saat deklarasi mereka juga complain karena tidak diundang, mungkin kesalahan teknis,” jelas Ethos H.L Ketika KR mengkonfirmasi ini ke pihak perusahaan melalui HP, Agus yang bekerja di staf CSR PT. Pilar Wana Persada mengatakan, mungkin kendala transportasi sehingga undangan tidak diterima.

“Acara ini berawal dari keinginan masyarakat adat Dayak Tomun yang ada di sekitar hutan ini agar ada kawasan hutan yang tetap lestari sehingga budaya Dayak tetap terjaga,” jelas pria yang juga menjabat sebagai General Manajer CU Betang Asi.

Tapin Bini dapat ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan roda empat selama 12 jam dari kota Palangka Raya. Kabupaten Lamandau yang berbatasan langsung dengan propinsi tetangga Kalimantan Barat, bahasa daerahnya yang disebut Tomuan mirip dengan bahasa di daerah kabupaten Ketapang propinsi Kalimantan Barat.

Menurut Ethos, deklarasi kali ini untuk memastikan bahwa pengakuan masyarakat betul-betul serius dan ada kawasan Dahas Bolau. Sejauh ini orang mengakui setelah digusur, sekarang di kawasan Dahas Bolau dilakukan sebelum digusur, walaupun kawasan ini sudah masuk dalam kawasan HGU.

Namun, masyarakat ingin bahwa perusahaan dapat melepaskan kawasan Dahas Bolau ini untuk masyarakat Dayak Tomun. Hal inilah yang mendorong masyarakat melakukan deklarasi di kawasan Dahas Bolau. Setelah deklarasi dilanjutkan dengan pengangkatan atau pembentukan Badan Pengelola Kawasan Adat yang diketuai oleh Uberlin Rewel.

Melalui HP, Uberlin Rewel menjelaskan kepada KR akhir Oktober, pasca deklarasi. Bahwa dampak negatipnya belum ada melainkan dampak positipnya masyarakat semakin mempertahankan hutan adat ini. “Walapun ada isu sekelompok masyarakat membentuk kelompok tani yang ingin mengelola kawasan Dahas Bolau namun sekarang agak reda, mudah-mudahan tidak berlanjut,” kata Uberlin.

Uberlin menambahkan, pro kontra terjadi setelah deklarasi. Cukup banyak dari masyarakat yang pro dan yang kontra ada dari pemerintah tapi tidak hanya sebagian saja. “Tanggapan dari pemerintah daerah, pak Bupati merespon baik dan mendukung deklarasi ini,” jelasnya.

“Kegiatan ini dilakukan selama dua hari yaitu pada tanggal 17-18 Mei 2010 lalu. Hari pertama dimulai dengan Mambia Tanah,“. Ditegaskan oleh Balian (pimpinan upacara adat Dayak) bila ada yang mengganggu akan dicabut nyawanya, kata Ethos.

Ethos melanjutkan, hari kedua baru dilaksanakan deklarasi yang dipimpin oleh Damang kepala adat Tjangkal Sepenar. “Saya pada waktu itu diminta secara khusus oleh mereka untuk hadir, makanya saya berangkat ke Tapin Bini” jelasnya. Pada hari kedua juga dikukuhkan badan pengelola kawasan dan badan pertimbangan.

Sisi lain, menurut Uberlin Lewel pihak PT. Pilar Wana Persada menolak deklarasi ini karena ini diputuskan secara sepihak dan kawasan ini sudah masuk dalam HGU perusahaan. “Mereka memberikan surat kepada kami yang ditembusan kepada Lurah dan Bupati. Isi suratnya menolak deklarasi karena di deklarasikan secara sepihak, padahal undangan sudah diberi, tapi tidak datang waktu diundang,” jelas Uberlin.

Sementara itu, Agus mengatakan bahwa pihak perusahaan sudah mengetahui pelaksanaan deklarasinya. “Hanya luas kawasan yang belum mencapai kata sepakat, secara prinsip perusahaan sudah mengenclave kawasan Dahas Bolau. Dari pertimbangan topografi ada wilayah yang cukup datar yang masih dapat dikelola oleh pihak perusahaan. Apabila topografi agak curam itu akan dienclave, “ jelas Agus. Sebagai dasar pertimbangan lahan yang dienclave terdapat situs budaya di wilayah HGU juga tingkat topografi, jelasnya.

“Ke depan kawasan ini tetap lestari baik dan aman terkendali, karena ada situs-situs bersejarah dari masyarakat, ada tanam tumbuh, rotan pohon durian dan lain-lain, kami tetap mempertahankan hak adat,” harap Uberlin.

Acara ini ditutup dengan pembacaan deklarasi oleh ketua Badan Pengelola Kawasan (BPK) Hutan Adat Dahas Bolau, Uberlin Rewel. Di depan tugu yang terbuat dari batu semen yang dilapisi keramik berwarna biru. Pada bagian depan akan dibuat prasasti dari marmer dan pada bagian atas ini dibuat serupa pohon kayu dari beton.

Semoga tugu ini menjadi saksi sejarah masa kini dan masa depan kearifan orang Dayak Tomun menjaga hutan dan kehidupannya, walaupun ada persoalan yang masih perlu di benahi.

Sejarah Dahas Bolau

Kawasan hutan adat Dahas Bolau ini seluas 1.941 hektar, ini adalah melalui proses enclave atau zona khusus. Sebelum kemerdekaan cikal bakal desa Tapin Bini, Bokunsu dan Sekoban berawal dari tempat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tanam tumbuh seperti durian dan kuburan lama. Nama makam itu adalah Dahas Bolau.

Di tempat ini ada pemukiman tempat tinggal dari orang-orang turunan Dahas Bolau, sehingga pada saat ada masuknya perusahaan sawit PT. Pilar Wana Persada yang mengelola itu kawasan itu hingga memiliki Hak Guna Usaha(HGU). Pihak perusahaan beroperasional dan bekerja dengan berdasarkan peta. Dalam peta kawasan Dahan Bolau ini adalah kawasan yang termasuk di HGU.

Kondisi ini akhirnya membuat masyarakat agar kampung lama ini tetap di jaga, ini berarti dikeluarkan dari kawasan HGU, jangan sampai menjadi kebun sawit. Masyarakat adat Dayak Tomun (baca orang desa Tapin Bini) bekerjasama dengan NGO Lembaga Studi Pemberdayaan Masyarakat Adat dan Advokasi (LAMAN) didukung oleh Walhi Kalteng dan Sawit Watch serta berbagai pihak melakukan pelatihan pemetaan untuk memetakan kawasan hutan adat Dahas Bolau, hal ini disambut baik oleh perusahaan PT. Pilar Wana Persada.
Dalam kawasan yang luasnya kurang dari 2.000 hektar ini ada kuburan tua dan itu dimiliki secara turun temurun. Karena sudah turun temurun maka dianggap sebagai kepemilikan kolektif. Jumlah kuburan tua ini masih dalam tahap inventarisasi oleh BPK hutan adat Dahas Bolau.

Tulisan ini juga dimuat di majalah Kalimantan Review edisi Nopember 2010. halaman 31.

Read More......

MENDAPAT GELAR DAYAK, USKUP NAIK TRAKTOR


Usup Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja, Pr sata menerima gelar adat Dayak. Peringatan Hari Pangan Sedunia Keuskupan Ketapang berlangsung di Paroki Santo Petrus Rasul Nanga Tayap. Jarak paroki ini kurang lebih 200 kilometer dari Kota Ketapang.

Dalam acara itu, ditampilkan tumpeng dari bahan pangan lokal sebanyak 75 buah, persembahan dari umat yang berasal dari pusat sampai pelosok paroki. Ini untuk merayakan kegembiraan, bahwa tahun 2010 ini Uskup Ketapang Mgr Blasius Pujaraharja Pr memasuki usia 75 tahun.

Acara berlangsung 11 Oktober 2010, dan menjadi kenangan tersendiri bagi Mgr Puja, panggilan akrabnya. Karena pada peringatan ini, Mgr Pujo mendapat gelar kehormatan dari masyarakat Dayak setempat.

Sejak itu, Uskup Pujaraharja bergelar Gemale Keputot Cangkar Temage Pencinte Damai Semua Bangse. Artinya adalah seorang tokoh panutan yang mencintai kedamaian dan mencintai semua masyarakat.

Demong adat setempat menjelaskan, gelar Gemale Keputot ini adalah gelar tertinggi dalam masyarakat adat Dayak Kayong Ketapang. Hal yang tidak terlupakan dalam kegiatan tersebut, adalah bahwa dalam perjalanan dari Kota Ketapang menuju Kecamatan Nanga Tayap, uskup itu harus diangkat memakai traktor.

Wah, apa pasal? Saat itu hujan, jalan licin, dan di jalan menuju Nanga Tayap ada yang baru ditimbun. Mobilnya nyangkut, Mgr Puja harus turun dari mobil dan berjalan kaki. Malangnya, Uskup Puja terjebak dalam kubangan lumpur sampai ke pangkal paha.

"Saya tidak bisa bergerak. Maju tidak bisa, mundur tidak bisa. Terpaksa saya diangkat pakai traktor,” kenang Uskup Puja.

Ya, gara-gara jalan jalan becek, jadilah pemegang gelar tertinggi Gemale tersebut, harus diangkat traktor. Lepas dari kejadian tersebut, Uskup Pujo tetap senang melihat partisipasi umat.

"Saya senang, dalam kegiatan Hari Pangan ini, umat dari berbagai wilayah sangat antusias terlibat. Mereka datang dari berbagai pelosok, padahal, sekarang lagi musim hujan dan sulit transportasi”, ucapnya. (*)

Sumber: kompas.com
Sumber foto: stat.k.kidsklik.com

Read More......

IBAN HISTORY IN BRIEF


The Ibans are a branch of the Dayak peoples of Borneo. In Malaysia, most Ibans are located in Sarawak, a small portion in Sabah and some in west Malaysia. They were formerly known during the colonial period by the British as Sea Dayaks. Ibans were renowned for practising headhunting and tribal/ territorial expansion. A long time ago, being a very strong and successful warring tribe, the Ibans were a very feared tribe in Borneo. They speak the Iban language.

Today, the days of headhunting and piracy are long gone and in has come the modern era of globalization and technology for the Ibans. The Iban population is concentrated in Sarawak, Brunei, and in the West Kalimantan region of Indonesia. They live in longhouses called rumah panjai. Most of the Iban longhouses are equipped with modern facilities such as electricity and water supply and other facilities such as (tar sealed) roads, telephone lines and the internet. Younger Ibans are mostly found in urban areas and visit their hometowns during the holidays. The Ibans today are becoming increasingly urbanised while (surprisingly) retaining most of their traditional heritage and culture.

The origin of the name Iban is a mystery, although many theories exist. During the British colonial era, the Ibans were called Sea Dayaks. Some believe that the word Iban was an ancient original Iban word for people or man. The modern-day Iban word for people or man is mensia, a slightly modified Malay loan word of the same meaning (manusia).

The Ibans were the original inhabitants of Borneo Island. Like the other Dayak tribes, they were originally farmers, hunters, and gatherers. Not much is known about Iban people before the arrival of the Western expeditions to Asia. Nothing was ever recorded by any voyagers about them.

The Ibans were unfortunately branded for being pioneers of headhunting. Headhunting among the Ibans is believed to have started when the lands occupied by the Ibans became over-populated. In those days, before the arrival of western civilization, intruding on lands belonging to other tribes resulted in death. Confrontation was the only way of survival.

In those days, the way of war was the only way that any Dayak tribe could achieve prosperity and fortune. Dayak warfare was brutal and bloody, to the point of ethnic cleansing. Many extinct tribes, such as the Seru and Bliun, are believed to have been assimilated or wiped out by the Ibans. Tribes like the Bukitan, who were the original inhabitants of Saribas, are believed to have been assimilated or forced northwards as far as Bintulu by the Ibans. The Ukits were also believed to have been nearly wiped out by the Ibans.

The Ibans started moving to areas in what is today’s Sarawak around the 15th century. After an initial phase of colonising and settling the river valleys, displacing or absorbing the local tribes, a phase of internecine warfare began. Local leaders were forced to resist the tax collectors of the sultans of Brunei. At the same time, Malay influence was felt, and Iban leaders began to be known by Malay titles such as Datu (Datuk), Nakhoda and Orang Kaya.

In later years, the Iban encountered the Bajau and Illanun, coming in galleys from the Philippines. These were seafaring tribes who came plundering throughout Borneo. However, the Ibans feared no tribe, and fought the Bajaus and Illanuns. One famous Iban legendary figure known as Lebor Menoa from Entanak, near modern-day Betong, fought and successfully defeated the Bajaus and Illanuns. It is likely that the Ibans learned seafaring skills from the Bajau and the Illanun, using these skills to plunder other tribes living in coastal areas, such as the Melanaus and the Selakos. This is evident with the existence of the seldom-used Iban boat with sail, called the bandung. This may also be one of the reasons James Brooke, who arrived in Sarawak around 1838, called the Ibans Sea Dayaks. For more than a century, the Ibans were known as Sea Dayaks to Westerners.

Religion, Culture and Festival

The Ibans were traditionally animist, although the majority are now Christian, some of them Muslim and many continue to observe both Christian and traditional ceremonies, particularly during marriages or festivals.

Significant festivals include the rice harvesting festival Gawai Dayak, the main festival for the Ibans.Other festivals include the bird festival Gawai Burong and the spirit festival Gawai Antu. The Gawai Dayak festival is celebrated every year on the 1st of June, at the end of the harvest season, to worship the Lord Sempulang Gana. On this day, the Ibans get together to celebrate, often visiting each other. The Iban traditional dance, the ngajat, is performed accompanied by the taboh and gendang, the Ibans’ traditional music. Pua Kumbu, the Iban traditional cloth, is used to decorate houses. Tuak, which is originally made of rice, is a wine used to serve guests. Nowadays, there are various kinds of tuak, made with rice alternatives such as sugar cane, ginger and corn.

The Gawai Burong (the bird festival) is held in honour of the War God, Singalang Burong. The name Singalang Burong literally means “Singalang the Bird”. This festival is initiated by a notable individual from time to time and hosted by individual longhouses. The Gawai Burong originally honoured warriors, but during more peaceful times evolved into a healing ceremony. The recitation of pantun (traditional chants by poets) is a particularly important aspect of the festival.

For the majority of Ibans who are Christians, some Chrisitian festivals such as Christmas, Good Friday, Easter, and other Christian festivals are also celebrated. Most Ibans are devout Christians and follow the Christian faith strictly.

Despite the difference in faiths, Ibans of different faiths do help each other during Gawais and Christmas. Differences in faith is never a problem in the Iban community. The Ibans believe in helping and having fun together. This is ironic for a tribe who once waged war with others due to differences.

Musical & Dancing Heritage

Iban music is percussion-oriented. The Iban have a musical heritage consisting of various types of agung ensembles – percussion ensembles composed of large hanging, suspended or held, bossed/knobbed gongs which act as drones without any accompanying melodic instrument. The typical Iban agung ensemble will include a set of engkerumungs (small agungs arranged together side by side and played like a xylophone), a tawak (the so-called ‘bass’), a bendai (which acts as a snare) and also a set of ketebung (a single sided drum/percussion).

The Iban as well as the Kayan also play an instrument resembling the flute called ‘Sape’. The Sape is the official musical instrument for the Malaysian state of Sarawak. It is played similarly to the way rock guitarists play guitar solos, albeit a little slower, but not as slow as blues. One example of Iban traditional music is the taboh.

The Ibans perform a unique dance called the ngajat. It serves many purposes depending on the occasion. During Gawais, it is used to entertain the people who in the olden days enjoy graceful ngajats as a form of entertainment. Iban men and women have different styles of ngajat. The ngajat involves a lot of precise body-turning movements. The ngajat for men is more aggressive and depicts a man going to war, or a bird flying (as a respect to the Iban god of war, Singalang Burong). The women’s form of ngajat consists of soft, graceful movements with very precise body turns. Each ngajat is accompanied by the taboh or the body.

Branches Of Iban Peoples

Although Ibans generally speak a dialect which is mutually intelligible, they can be divided into different branches which are named after the geographical areas where they reside.

Majority of Ibans who live around the Lundu and Samarahan region are called Sebuyaus.
Ibans who settled in areas in Serian district (places like Kampung Lebor, Kampung Tanah Mawang & others) are called Remuns. They may be the earliest Iban group to migrate to Sarawak.
Ibans who originated from Sri Aman area are called Balaus.
Ibans who come from Betong, Saratok & parts of Sarikei are called Saribas.
The Lubok Antu Ibans are classed by anthropologist as Ulu Ai Ibans.
Ibans from Undup are called Undup Ibans. Their dialect is somewhat a cross between the Ulu Ai dialect & the Balau dialect.
Ibans living in areas from Sarikei to Miri are called Rajang Ibans. They are the majority group of the Iban people. They can be found along the Rajang River, Sibu, Kapit, Belaga, Kanowit, Song, Sarikei, Bintangor, Bintulu and Miri. Their dialect is somewhat similar to the Ulu Ai dialect.

In Kalimantan (Indonesian part of Borneo), Iban people are even more diverse. The Kantu, Air Tabun, Semberuang, Sebaru’ , Bugau, Mualang & along with many other groups are classed as “Ibanic people” by anthropologist. They can be related to the Iban either by the dialect they speak or their custom, ritual & their way of life.

Sumber: kayaubaru.blogspot.com
Sumber foto: blogspot.com

Read More......

FRIDOLIN UKUR


Pemirsa televisi pada tahun 1970-an mengenal dia sebagai pendeta berpeci. Sebulan sekali ia tampil di Mimbar Protestan TVRI. Bahasanya khas dengan banyak idiom. Kalimatnya sering puitis, bahkan dalam khotbahnya ia pun acap berpuisi. Ia pun suka menggunakan kata-kata asbstrak seperti bahan kelampauan, isi kekinian, atau harga keakanan. Pemirsa perlu berpikir dua kali untuk memahami isi khotbahnya. Tetapi khotbahnya yang sering diselingi senyum disukai banyak orang karena berbobot dan memikat. Pendeta berpeci itu adalah Fridolin Ukur (1930-2003).

Ukur jauh melebihi saya dalam segala hal. Ia sudah menjadi mahasiswa STT Jakarta ketika saya masih murid SD di Bandung. Tetapi kemudian hari jalan hidup kami bersilang.

Ketika saya menjabat pengurus GMKI cabang Malang, dua kali saya menjadi tuan rumah Ukur yang berkunjung sebagai sekretaris umum GKMI pusat untuk melakukan latihan kepemimpinan. Langsung saya mendapat kesan bahwa ukur berwatak gesit, sadar waktu, dan suka kerja keras. Ia meminta agar kunjungannya selama lima hari itu dijadwal secara ketat dan padat. Ia tidak mau membuang waktu. Watak itu terus tampak secara konsisten dalam persahabatan kami selama 45 tahun.

Pada pembukaan latihan kepemimpinan itu, Ukur mengacu ke ayat yang berbunyi, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus aku, selama masih siang. Akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yoh. 9:4).

Lalu Ukur berkata kurang lebih, “Kalian adalah benih unggul. Masa hidup di kampus cuma lima tahun. Jangan sia-siakan masa lima tahun ini dengan bersantai atau berpacaran. Tetapi gunakan ini sebagai kesempatan menumbuhkan benih unggul di dalam dirimu. Kembangkan jiwa pengabdian dan kepemimpinanmu. Jadilah guru sekolah Minggu, pengurus pemuda, atau pengurus kepanduan. Lahap semua buku di perpustakaan. Baca semua koran dan simak problematik masyarakat. Siapkan diri menjadi pemikir yang kelak menyumbangkan pemikiran bagi masyarakat dan gereja. Jadilah mahasiswa unggul yang lulus cum-laude. Nanti jadilah jaksa yang kejujurannya unggul. Jadilah dokter yang terapinya unggul. Jadilah pendeta yang khotbahnya unggul. Apa pun profesimu, kamu mengerjakan pekerjaan Allah jika perilaku dan kinerjamu menjadi kesaksian yang patut diteladani.”

Pada malam itu dibecak kami berdua tidak banyak bercakap-cakap karena letih. Tetapi demi kesopanan, saya berbasa-basi, “Bapak baru pulang dari Jerman. Apa kesan Bapak tentang mahasiswa teologi di Jerman? Ukur menjawab, “Mahasiswa di sana punya banyak buku . mereka banyak membaca. Mereka banyak menulis paper. Pokoknya banyak kerja tetapi makannya juga banyak dan enak” lalu ia tertawa sambil menceritakan makanan Jerman. Pada saat itu kami berdua betul-betul lapar.

Setelah masa jabatannya di GMKI pusat selesai, Ukur kembali ke Gereja Kalimantan Evangelis. Ia menjadi pendeta jemaat dan rektor STT Banjarmasin. Kemudian hari selama delapan tahun dia menjadi direktur lembaga penelitian PGI, guru STT Jakarta, sekretaris umum PGI dan konsultan BPK Gunung Mulia.

Sementara itu, Ukur digemari oleh banyak kalangan sebagai penceramah favorit karena pembawaanya yang kocak. Ceramahnya padat dan singkat. Ia cakap bercerita. Hadirin meledak dalam tawa jika ia menceritakan anekdot yang nyerempet politik atau nyerempet pornografi.

Sumbangsih Ukur yang lebih khas adalah tulisannya. Ia banyak menulis di Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Berita Oikumene. Sebagai sastrawan dan penyair ia juga banyak menulis puisi. Dua buku kumpulan puisinya diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dengan judul Darah dan Peluh dan Wajah Cinta.

Watak Ukur yang sadar waktu dan suka bekerja keras tersirat di sana-sini dalam tulisannya dan terutama dalam puisinya. Tulisannya,

Waktu pun berbisik:
Pengalaman yang berserakan
Jejak-jejak yang ditinggalkan
Adalah kelopak-kelopak bunga cinta,
Sebuah bunga rampai
Mekar di tangkai;
Seperti bianglala menganyam mimpi
Meraih, menggapai, memeluk fajar
Sebuah harapan tak pernah pudar!

Aku pun ikut berbisik:
Perjalanan ini, sayang
Bukannya ruang sempit dan lorong sepi!
Kembara ini, kasih
Adalah jalan lebar menyemai cinta
Di atas bumi
Di antara sesama ….

Tersirat dalam banyak puisi Ukur bahwa tiap hari merupakan perlombaan lari. Ukur merasa diri berlari, bukan seorang diri melainkan dengan sang waktu, ia berpacu dengan waktu, ia dan waktu berlari bersama tiap hari, namun sering ia merasa ditinggal oleh waktu. Ia merasa dikhianati oleh waktu. Tulisnya:

Apakah waktu mengkhianati aku
Ketika aku disibuki dengan ceramah
Ketika aku berkhotbah tentang
Cakar hitam dan pagi biru,
Ketika gairah kuhabiskan di konferensi
Dan rapat-rapat…
Masih ada waktu melempar bayang
Menanya diri dan kesilaman:
Tentang khianat dan bakti
Tentang dosa dan pengampunan suci
Tentang kawan berdoa pengisi sunyi…

Walaupun Ukur disibukkan oleh banyak pertemuan oikumenis, namun ia tetap merasa tertanam di bumi Kalimantan. Bagi Ukur, Gereja Kalimantan Evangelis adalah bagaikan ibu pengasuhnya. Sebab itu ia terus menggumuli hubungan iman Kristen dengan budaya Dayak melalui banyak penelitan lapangan dan kepustakaan. Bagi agama suku Dayak, atau agama Kaharingan, bumi adalah tempat tinggal daya-daya gaib yang tidak tampak. Supaya daya-daya gaib itu tidak menimbulkan bencana, manusia harus memelihara keserasian dengan alam melalui upacara adat. Studi lanjut Ukur di Swiss dan disertasinya di STT Jakarta adalah tentang hubungan iman dan budaya.

Ukur memandang Kalimantan sebagai ladang pekerjaan Allah yang penuh dengan tuaian, namun kekurangan penuai, sejajar dengan ucapan Yesus yang berbunyi, “ …Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang mempunyai tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat. 9:37-38).

Kedekatan Ukur dengan bumi Kalimantan tampak dalam bukunya yang berjudul Tuaiannya Sungguh Banyak – Sejarah Gereja Kalimanan Evangelis. Ia menggambarkan pulau Kalimantan sebagai “hutan rimba … ngeri menyeramkan, sungai-sungai yang menganga lebar … berhari-hari berlayar tidak jua bersua kampung”. Gereja di Kalimantan mulai tumbuh pada tahun 1920-an dengan nama Gereja Dayak Evangelis berkat pengorbanan para misonaris dari Swiss.

Dalam buku itu Ukur juga menceritakan langkah-langkah pertama pewartaan injil di bumi Kalimantan, yaitu melalui pembangunan sekolah penyuluh kesehatan, sekolah perawat, sekolah pertanian, sekolah guru dan sekolah teologi. Serempak juga dibangun percetakan yang mencetak buku-buku Kristen dalam berbagai dialek Dayak, yaitu bahasa Ngaju, Maanyan, Ot Danum, Samihin dan yang lainnya. Pendeta yang pertama lulus pada tahun 1937. Mereka terdiri dari tiga belas orang etnik Dayak dan seorang etnik Tionghoa.

Sejak awal umat sudah dididik untuk beribadah secara tertib dan teduh, tidak terlambat, dan tidak gaduh. Ukur mengutip peraturan tahun 1934 yang berbunyi, “… maka haruslah segala orang jemaat itu sudah sedia duduk pada tempatnya dengan diam-diam …setelah orang banyak menyanyi pada pertama kalinya, maka pintu ditutup dan dikunci. Barang siapa datang sesudah itu, haruslah menunggu di luar….”.

Masih ada beberapa buku lain tulisan Ukur yang tidak disebut di sini. Ia menulis terus sampai akhir hayatnya. Ketika tubuhnya kian lemah termakan penyakit, tiap hari ia masih menulis di rumah atau di rumah sakit. Tiap hari terjadwal dengan ketat. Ia hanya beristirahat sebentar untuk meneguk kopi, mengisi teka-teki silang, atau membaca cerita cowboy, lalu menulis lagi.

Ukur hidup dalam kesederhanaan sering ia berkata bahwa ia tidak punya apa-apa, mungkin karena memang tidak perlu punya apa-apa. Dalam penggalan puisinya ia menulis,
Lalu hari-hari kesulitan,
Selalu bertaut keriaan dan kerelaan…
Puisi kehidupan kian matang
Tentang penyerahan dan cinta.
Kita memang tak punya apa-apa
Kecuali cinta!

Berkali-kali Ukur dirawat di rumah sakit. Pernah ia sama-sama dirawat di rumah sakit yang sama dengan Dick Maitimoe, yang juga lulusan STT Jakarta. Lalu di situ Maitimoe meninggal dunia. Penggalan puisi kesedihan Ukur berbunyi,
Makin terasa
Kita tengah berpacu dengan waktu
Antara tugas panggilan suci
Terus menanti
Dengan tubuh yang tambah rapuh
Dimakan usia tambah menua
Dalam lomba ini
Kau mendahului kami
Pulang ke rumah Bapa
hari ini!

Sepanjang jalan hidupnya, tidak ada waktu yang disia-siakan oleh Ukur. Ia terus bekerja. Walapun hidupnya berakhir dengan keringkihan dan kerentaan, namun seluruh masa hidupnya telah menjadi berkat bagi kalangan yang luas. Tulisnya,
Karena langkah-langkah kaki kita
Sudah terseret, selangkah-selangkah
Tidak lagi semantap dulu!
Tak usah risau
Tak usah resah
Telah kita tanami bibit cinta
Telah kita semai benih-benih kasih
Di sepanjang perjalanan pengabdian…

Salah satu puisi Ukur yang terakhir dan belum dipublikasikan bertutur lirih,

Dalam penantian ini
Diri tejepit antara gunung kehidupan dan tubir kematian
Keduanya menawarkan pengharapan
Kehidupan kekinian, di sini
Kehidupan keakanan , di sana …

Benih unggul dalam diri Fridolin Ukur telah berbuat lebat. Ia telah menjadi tuaian dan penuai di ladang pekerjaan Allah. Ia telah menuai selama masih siang dan … tuaiannya sungguh banyak!.

Sumber: Selamat Bergereja, Andar Ismail. Halaman 19-25.
Sumber foto: profile.ak.fbcdn.net

Read More......

PDT. Dr. MARKO MAHIN, S.Th: Mengubah Bahasa, Mengubah Etnis


Kondisi sekarang kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah semakin terhimpit oleh budaya-budaya “modern”. Hal ini menyebabkan banyak anak muda Dayak yang tidak tahu bahkan tidak pernah melihat lagi kebudayaan leluhurnya. Budaya Huma Betang yang bernafaskan kebersamaanpun semakin luntur, di warnai oleh kepentingan-kepentingan non Dayak.


Awal Mei lalu KR berkesempatan bertemu dan mewawancarai Pdt. Dr. Marko Mahin, S.Th saat berada di Palangka Raya. Antropolog muda Dayak ini dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh KR, berikut petikannya:

Sikap anda terhadap nilai-nilai budaya Dayak yang semakin luntur?

Sebagai antropolog saya mau realistis melihat bahwa tidak ada budaya yang menetap dan selalu dalam keadaannya begitu-begitu saja dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun. Kebudayaan itu bergerak dinamis, cair, akan mengalami perubahan-perubahan. Bisa saja ada bagian yang hilang, berkembang, ada bagian yang beradaptasi dengan baik dan itu masih kita jumpai sekarang.
Ada juga yang tidak bisa beradaptasi dengan baik karena mengalami inovasi-inovasi dan perubahan-perubahan. Jadi masalah apakah dia semakin luntur atau tidak, itu tergantung cara kita melihat. Ada beberapa bagian budaya kita yang memang harus kita lunturkan dengan sengaja.
Misalnya budaya pinjam meminjam, kita meminjam, kalau ada pinjam, anda harus kembalikan. Anda bukan meminta dan barang itu bukan diberikan. Jadi memang ada budaya yang memang harus kita lunturkan dengan sengaja. Lalu kemudian budaya-budaya tertentu yang negatip ini harus dilunturkan dengan sengaja. Tapi yang positipnya harus dikembangkan. Nah ... perdebatan budaya yang luntur ini memang ada bagian yang harus kita angkat, ini semakin dipertegas.

Kondisi selama ini budaya Dayak Kalimantan Tengah, menurut anda lebih banyak diangkat atau dihilangkan?

Kita tidak bisa menghitung persentase kebudayaan itu ya, kalau kita berbicara kebudayaan itu kita berbicara gerak bukan berbicara kuantitatif yang persennya berapa. Jadi geraknya cukup dinamis.
Misalnya dulu orang Kalimantan tidak pernah terpikir territorial, mereka hanya berfikir berdasarkan alur sungai. Pembagian dunianya berdasarkan sungai, tapi ketika mereka bertemu dengan state, dengan Negara Indonesia mereka mulai berfikir, territorial kami ada di wilayah ini dan mulai berfikir provinsional. Itu berarti sungai tidak compatible dengan jaman, tetapi kita dengan cepat merubah itu. Makanya muncul Kalimantan Tengah, yang tidak mau berfikir menggunakan alur sungai lagi tetapi dengan cara territorial, saya pikir itu bagus.
Kalau dilihat yang luntur-lunturnya ada beberapa harus kita akui memprihatinkan. Bahasa misalnya, bahasa itu jelas indicator kelunturan, kalau kita tidak mau melihat tergerus. Ada banyak orang yang sudah malu berbahasa Dayak, tidak bisa berbahasa Dayak bahkan dengan terang-terangan mengajar anaknya di rumah bukan bahasa ibu. Saya senang kalau berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia, tapi jangan bahasa daerah juga, masa memiliki bahasa daerah sendiri lebih bangga memakai bahasa daerah yang lain, itu yang mungkin jelas terlihat.

Selain bahasa apa, misalnya kesenian Dayak yang lain?

Kalau kita melihat secara kuantitatif selain bahasa ya ... agama. Jelas orang-orang Dayak dulu pada mulanya adalah Kaharingan semua. Karena invasi dari agama besar akhirnya hanya tinggal sekitar 200.012 orang yang Kaharingan dan akibatnya karena Kaharingan sebagai pandangan hidup tersisihkan itu berakibat langsung ke lingkungan hidup.

Ya... karena ajaran agama-agama semic, kemudian kedatangan laju pembangunan yang tidak terkontrol, kemudian kedatangan investor yang merajalela alam kita hancur. Padahal dulu sebelum ada itu, orang sangat bersahabat dengan alam dan merupakan bagian dari alam. Jadi konsep penaklukan dunia itu jelas sekali impactnya ke lingkungan hidup, alam ditaklukan, dikeruk, dimanfaatkan sehabis-sehabisnya. Sampai sekarang kan sisanya lingkungan kita yang rusak.

Penilaian anda terhadap tokoh-tokoh tua Dayak sekarang , apakah mereka turut mewariskan atau malah melunturkan budaya-budaya Dayak itu sendiri?, misalnya tadi orang tua malah mengajarkan bahasa ibu yang lain kepada anaknya?

Kita harus perjelas dulu mengenai orang tua ini dan orang tua yang secara posisi sosial (para tua-tua adat) adat yang sebagai orang tua biologis adalah victim atau korban dari proses dedayaktisasi yang berpuluh-puluh tahun.
Jadi dia merasa menjadi Dayak itu rendah, primitive, ketinggalan jaman, kampungan, udik. Lalu dalam rangka adaptasi dan pertahanan diri dia mencoba memakai bahasa yang lain, itu terjadi semenjak abad ke-14 ketika orang-orang Dayak mulai konversi ke Islam mereka wajib mengganti bahasa ibunya memakai bahasa Melayu, karena sebenarnya bukan mengganti etnis tapi mengganti bahasa. Tapi ketika anda mengganti bahasa otomatis mengganti etnis.

Pesan dan harapan anda untuk mewariskan budaya-budaya Dayak?

Saya tidak berbicara mengenai pewarisan-pewarisan, tapi lebih bagus saya menggunakan kata pengelolaan. Kalau saya mewariskan berarti ada satu benda yang bisa berupa Mandau, Guci, sehingga saya tidak mau dengan konsep museumnisasi yang melihat kebudayaan hanya sebagai artefak-artefak.

Tapi saya mau melihat budaya itu sebagai nilai, secara universal, mulia, luhur dalam kebudayaan Dayak itu harus kita kembangkan, kapan perlu itu harus kita sebarkan ke orang-orang lain. Kebudayaan ramah terhadap alam melihat Tuhan itu ada di sekitar dirinya itu penting.

Budaya Huma Betang

Pandangan anda terhadap budaya Huma Betang bagaimana?

Secara jujur saya tidak pernah tinggal lama di rumah betang, tapi saya pernah berkunjung dan diam di rumah betang sewaktu saya mengadakan penelitian. Misalnya di daerah Tumbang Malahoi, Kalimantan Tengah, di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur juga di Kalimantan Barat.
Bagi saya budaya betang yang paling baik itu adalah sebenarnya budaya komunal dan kebersamaannya. Jadi komunal itu adalah sehati, sepikir, sejiwa, sepenanggung, seperasaan, saling memperhatikan walapun ada sisi negatifnya juga, kita harus akui tidak semua betang itu positif.
Misalnya karena menerapkan budaya komunalisme, ada orang yang bermental parasit dan malas bekerja sehingga menggerogoti system itu, karena dia pikir walaupun tidak bekerja saya pasti mendapat bagian dari komunitas saya. Dalam istilah antropologi itu Tragedy of Command, kebersamaan-kebersamaan itu justru dipakai oleh sekelompok orang untuk menggerogoti system. Kalau sistemnya bisa berjalan, orang yang bermental parasit itu akan dipelihara.
Budaya betang juga menghalangi orang yang bermental kompetisi, karena di dalam konsep komunalisme itu tidak boleh ada yang lebih menonjol dalam ekonomi maupun pemikiran. Semuanya harus bulat dan rata, dalam bahasa dayak ngaju dikenal “paras kajang”. Walaupun kita punya kelebihan itu harus ditahan, jangan ditonjolkan, itu membuat orang Dayak yang punya kemampuan tidak terlalu diekspos, karena template kita berfikir kita begitu. Kalaupun punya kemampuan dan kapasitas, tahan dulu. Itu sisi negative budaya betang, dan kita harus berani mengkritisi, walaupun sisi positipnya kita menjunjung tinggi.
Saya juga menyukai budaya betang secara konsep, kita membangun konsep Negara mikro. Di dalamnya kita melihat ada kesejahteraan bersama dan kepemimpinan jelas oleh orang lokal, bukan oleh orang luar. Jadi sangat jelas demos rakyat setempat itu dihargai, Demos yang memimpin di situ bukanlah dropan-dropan orang luar, itu konsep Negara dalam tataran mikro dan itu penting untuk pemberdayaan. Yang perlu kita pikirkan jangan sampai rumah betang ini tenggelam dalam konsep state, Negara yang besar ini yang menghancurkan kita.

Langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk mewariskan hal-hal positip itu?

Bagi saya yang perlu diwariskan adalah komunal yang dikenal dengan kebersamaan. Dalam bahasa sosial ini kan disebut modal sosial dan ini harus kita kembangkan. Efek barat yang paling buruk yaitu individualisme. Jadi hak-hak pribadi mesti dihargai, tapi kita di sini adalah komunalisme itu penting bagi gerakan sosial kita.
Bagi saya sekarang rumah betang itu imaginer, itu adalah rumah imagi orang-orang Dayak kita tinggal di rumah betang bersama Kalimantan Tengah, tapi masalahnya adalah spiritnya apa, kan kebersamaan. Kita tetap tinggal di rumah masing-masing tapi kita merasa bersama dengan yang lain itu yang harus disosialisasikan bahwa kita tinggal dalam satu rumah, kita harus menjaga, membersihkan, mengatur dengan baik dan tentu saja yang mengaturnya bukan orang lain.
Tidak boleh ada orang lain yang mengatur rumah tangga kita sendiri termasuk dengan tata undang-undangnya, kepemilikannya, agamanya tidak boleh orang lain mengatur kita harus mengikuti agama ini, agama itu.

Dalam hubungannya mewariskan budaya rumah betang , menurut anda apakah suhu politik di Kalteng mendukung untuk hal itu?

Di sini ada dua gerakan, pertama gerakan debetangnisasi, ada orang yang mau rumah betang itu utuh, tak mau dipilah-pilah menjadi kotak ini dan itu.
Kedua yang menarik lagi betang itu mau dibuat kabur konsepnya lalu akhirnya orang yang tadinya cuma tamu di rumah betang itu, dan ada di pelataran tiba-tiba dia bisa ada diruang utama dan memimpin rapat. Bagi saya konsep begitu bukan genuine Dayak dan menghianati konsep rumah rumah betang.

Dengan kata lain kita harus menghormati orang-orang lokal?

Saya 100% harus seperti itu, orang lokal bukan orang bodoh mereka tahu dan punya cara untuk mengatur negeri, rumah tangga, lingkungannya. Orang luar belum tentu tahu walaupun mungkin bisa, tetapi lebih baik orang setempat.

Tulisan ini juga dimuat di majalah Kalimantan Review (KR)
Sumber foto: www.ui.ac.id

Read More......

Syaer Sua, Hidupkan Huma Betang


”Cita-cita saya hanya satu. Jangan sampai adat budaya Dayak ditinggalkan. Saya lihat adat budaya kita makin tenggelam, lama-kelamaan nanti tinggal menjadi legenda.”


Kata-kata itu diucapkan Syaer Sua, seniman Dayak Ngaju, saat ditemui di tempat tinggalnya di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, pada Juni lalu. Impian melestarikan seni budaya itulah yang menggerakkan Syaer Sua membangun dua huma (rumah) betang tahun 2002-2008.

Untuk mewujudkannya,pria bernama lengkap Syaer Sua U Rangka ini mendirikan bangunan rumah panjang khas Dayak, Kalimantan Tengah, itu di Tumbang Manggu, kawasan hulu Sungai Katingan. Ia sengaja tak membangun huma di ibu kota provinsi itu, Palangkaraya, tempatnya menapaki masa remaja selepas lulus sekolah rakyat.

Tumbang Manggu adalah kampung asal orangtua Syaer. Dia sendiri lahir di Bukit Rawi, Kahayan Tengah, Kabupaten Katingan. Masa kecilnya dihabiskan di tempat itu sebelum pindah ke Palangkaraya.

Sebelum hidup dan bermukim di rumah-rumah tunggal, masyarakat Dayak Kalimantan mendiami huma betang. Rumah itu dihuni puluhan keluarga yang umumnya masih kerabat. Satu kampung biasanya memiliki satu huma betang.

Sampai kini hal itu masih dilakukan. Sebagian dari mereka tetap tinggal di rumah panjang. Namun, sebagian lainnya sudah meninggalkan huma betang. Mereka hanya berkumpul di rumah betang ketika ada upacara adat.

”Saya ingin mempertahankan budaya betang. Oleh karena itu, saya membangun ini (huma betang) meski biayanya tak terhitung,” katanya.

Syaer Sua tak goyah walau ada orang yang menilai pembangunan rumah betang itu pekerjaan ”pemimpi”, bahkan dianggap aneh. Ia tetap berusaha mewujudkannya.

Tahun 2002, ia mulai mencari pohon ulin atau belian (Eusideraoxylon zwageri) di hutan adat sebagai bahan baku utama. Rumah pertama itu kemudian diberi nama Betang Bintang Patendu.

Lantai Rumah yang selesai dibangun tahun 2003 itu memiliki ketinggian sekitar empat meter dengan fondasi sekitar 70 pohon ulin. Luas bangunan utama 171 meter persegi. Sedangkan bangunan kedua, yakni dapur dan ruang makan, luasnya 135 meter persegi.

Tahun 2005-2008 Syaer Sua membangun huma betang kedua bernama Balai Basara Bintang Semaya. Luas bangunan utama yang ditopang 80 pohon ulin sekitar 300 meter persegi dan bagian belakang 96 meter persegi.

”Pembuatannya lama. Selain menyesuaikan dana, bahan baku kayu ulin harus dicari ke dalam hutan selama dua-tiga bulan. Untung ada perusahaan perkayuan membantu pengangkutannya,” ujarnya.

Karungut dan RRI

Memiliki rumah betang, bagi Syaer Sua, tak sekadar wahana untuk menikmati hari tua. Tetapi, sebagai tempat pengembangan seni budaya Dayak di pedalaman Katingan. Oleh karena sebelumnya, tahun 1970-1980-an ia menekuni dan mengembangkan seni karungut di Palangkaraya.

Karungut merupakan seni bertutur, semacam pantun atau syair tentang nilai moral, adat, perjuangan, bahkan pesan semangat untuk membangun. Seni ini diiringi ketabung atau kecapi khas Dayak, kakanong, suling, dan gendang. Bersama seniman lain, Syaer Sua bermain karungut di Radio Republik Indonesia (RRI) Palangkaraya setiap Minggu malam.

Dari RRI, Syaer Sua kemudian dikenal sebagai salah satu pangarungut (seniman karungut) produkif. Ia tak hanya pandai melantunkan, tetapi juga mencipta ratusan judul karungut yang sifatnya spontan maupun tertulis.

”Saya lupa berapa banyak yang saya cipta, semua master rekamannya ada di RRI Palangkaraya,” katanya.

Syaer Sua juga populer. Pengemarnya tak hanya dari Palangkaraya, tetapi juga masyarakat di beberapa daerah pedalaman di Kalteng yang terjangkau siaran radio.

”Kami tahu karena kerap mendapat kiriman pesan dari pendengar di pelosok,” katanya.

Berkat kepiawaiannya, tahun 1970 Syaer Sua dipercaya pemerintah daerah tampil memainkan karungut serta tarian dayak di RRI dan TVRI Jakarta, termasuk pada peresmian Taman Mini Indonesia Indah. Bersama grup kesenian asal Kalteng, tahun 1992, Syaer Sua pentas di Spanyol, dan 1994 ia tampil di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Singapura.

Dalam empat kali lomba musik karungut tingkat Kalteng, Syaer Sua selalu juara, sampai-sampai ia tak boleh lagi ikut berlomba.

Dia juga menjadi andalan Kalteng dalam olahraga sumpit. Beberapa kali ia meraih medali emas. Dia juga pernah melatih atlet sumpit Kalteng untuk Pekan Olahraga Nasional. Tahun 2001, ia diminta Panglima Kostrad untuk melatih keterampilan menyumpit kepada pasukan khusus.

Enggan jadi pegawai

Syaer Sua bercerita, dia sempat beberapa kali mendapat tawaran dari gubernur Kalteng untuk menjadi pegawai negeri atau terjun dalam partai politik. Namun, semua tawaran itu dia tolak.

”Saya tidak mampu melakukannya. Saya tidak suka politik yang banyak bohong,” katanya.

Penghasilan Syaer Sua diperoleh, antara lain, dari pembuatan album musik karungut yang mencapai 20-an buah. Ratusan ribu keping VCD atau DVD album karungut Syaer Sua beredar di Kalteng. Selain penggemarnya, album Syaer Suar juga diminati para pakar musik etnik dari mancanegara.

Dia bukanlah satu-satunya seniman karungut di Kalteng. Sedikitnya ada 10 pangarungut yang masih bertahan. Banyak anak muda yang masih menekuninya, terbukti dari keikutsertaan mereka pada lomba seni tradisional Dayak.

Buah dari usaha Syaer Sua itu dirasakan warga Tumbang Manggu. Kampung yang ditempuh selama empat jam perjalanan darat dari Kota Palangkaraya ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya dan alam yang menarik. Setiap tahun seratusan wisatawan mengunjungi kampung ini.

Mereka, antara lain, bisa menikmati karungut, belajar menyumpit, mencicipi minuman dan makanan khas warga setempat. Mereka juga bisa menjelajah hutan melalui riam-riam pada beberapa anak Sungai Katingan. Semua itu menjadi pengalaman tersendiri buat wisatawan yang merasakan tinggal di huma betang.

Pada perkembangannya, rumah betang menjadi terbuka bagi siapa saja yang cinta dan peduli seni budaya Kalimantan. Moto rumah ini: berbeda suku agama bukan penghalang, sudah membudaya dari nenek moyang, hidup rukun damai selalu berkembang, itulah yang disebut budaya betang.

”Saya tidak akan menyerah untuk bisa mewujudkannya,” demikian tekad Syaer Sua.

Sumber berita dan foto: kompas.com

Read More......

Anthony Nyahu: Lebih Baik Juling Daripada Buta


Keleh Mata Babilas Bara Babute. Lebih baik mata juling daripada buta. Demikian satu pepatah dalam Bahasa Dayak Ngaju yang ingin menyampaikan pesan, kurang lebih, lebih baik seadanya daripada tidak ada. Itulah analogi yang hendak disampaikan Anthony Nyahu (35), seorang linguis yang bekerja di Balai Bahasa Palangka Raya, tentang soal menuturkan Bahasa Dayak Ngaju di kalangan masyarakat Kalteng masa kini.

Tony, panggilan akrabnya, seorang putra Dayak dari Katingan yang terpanggil mengangkat nasib Bahasa Ngaju, lingua franca, bahasa pergaulan di antara sesama penduduk Kalteng ini. Nasib yang tak berpihak, karena baginya ada kesan bahwa bahasa ini sengaja atau tidak, sudah sedikit sekali dituturkan dalam percakapan keseharian masyarakat. Ia tak mau itu terjadi seterusnya, hingga bahasa ibunya tersebut pelan tapi pasti ditelan kepunahan, tidak eksis lagi.

Apakah hal ini merupakan produk sadar masyarakat yang lebih mengutamakan Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa sub-etnik lainnya? Tony berpendapat, masalah resistensi bahasa itu pilihan dari para penuturnya sendiri, kita mau atau tidak untuk merawat dan mempertahankannya. Hal itu tidak dapat dipaksakan kepada masyarakat non-Dayak, yang hadir di Kalteng, untuk turut menuturkannya, jika orang-orang Dayak sendiri tidak mau membudayakannya.

Jadi pemikiran Tony ialah orang-orang Dayak harus mau, secara positif, menjadikan Bahasa Ngaju itu sebagai bahasa tutur yang utama di rumah-rumah dan dalam pergaulannya, mendampingi Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa standar dalam dunia pendidikan dan pemerintahan di Kalteng. Jika tidak begitu, ia khawatir maka setelah satu generasi lagi, maka pasti Bahasa Ngaju itu punah.

Berbagai upaya sedang dikerjakan Tony guna mewujudkan misinya tersebut. Di antaranya, ia sedang mempersiapkan sebuah buku ajar bahasa daerah, sebagai muatan lokal, yang dipakai di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Walaupun diakuinya, sedikit sekali dukungan yang diperolehnya dari pemda yang mengurus hal itu. Memang perjuangan ini mendapat tentangan justru dari kelompok yang sebenarnya harus mempertahankan bahasa Ngaju itu sebagai miliknya.

Tony tetap berkarya. Beberapa artikel ditulisnya di berbagai media massa lokal guna menyampaikan pesannya agar Bahasa Ngaju itu dihargai dan diberikan tempat seharusnya. Ia juga aktif menggalang dukungan dari berbagai pihak, budayawan dan sejarawan, seperti dari JJ Kusni Sulang dan Nila Riwut, untuk mempersiapkan infrastruktur bahasa Ngaju mudah dipelajari dan dituturkan oleh generasi muda Dayak. Tony berupaya agar sintaksis dan tata bahasa tidak menjadi hambatan orang sulit mempelajari dan berbahasa Ngaju.

Sama seperti Gubernur Agustin Teras Narang sudah mempersiapkan infrastruktur jalan dan jembatan agar bisa mempermudah urusan dalam pembangunan Kalteng yang sejahtera dan bermartabat, maka Buku Kamus Bahasa Dayak Ngaju harus diterbitkan terlebih dulu untuk orang-orang mudah berbahasa Ngaju.

Setelah itu, barulah bisa bicara tentang penyempurnaan tata bahasa. Oleh karena itu, Tony menurunkan tiga prinsip agar Bahasa Ngaju itu lestari beberapa ratus tahun lagi. Harus ada kemauan menuturkan (maku bebasa), setia menggunakannya (patuh bebasa) dan pada akhirnya menuruti pakem (numun aturan) akan menyusul dengan sendirinya.

Biodata
Nama : Anthony Nyahu
Lahir : Katingan, 7 Agustus 1975
Profesi : Linguis di Balai Bahasa & Peminat Sastra Dayak
Pendidikan : Sarjana Bahasa Inggris Universitas Palangka Raya (1999)
Sumber berita/ foto: hariantabengan.com

Read More......

Mandau Ambang Birang Bitang Pojo Ayun Kayau

Judul Diatas adalah nama lengkap dari senjata khas Suku Dayak yang biasa juga disebut Mandau. Dilihat dari model dan bentuknya hampir mirip dengan Parang atau Golok namun apabila dilihat lebih detail Mandau mempunyai ciri khas tersendiri dari senjata lain.

Pada jaman dahulu mandau dibuat dari batu gunung yang mengandung unsur besi di dalamnya yang kemudian di tempa oleh pandai besi. Seorang pandai besi juga bukan sembarang yang mampu membuat mandau yang memiliki makna dan arti, karena ukuran mandau juga perlu dihitung menggunakan Amalan atau hitungan hitungan khusus, gunanya adalah agar tidak mencelakakan diri sendiri atau bisa juga bermakna tidak mencari musuh, pantang mundur dan lain-lain.

Seperangkat mandau terdiri dari sebilah mandau yang bertatahkan emas, perak atau tembaga, juga dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Dayak. Pada pangkal biasanya terdapat rajah atau sejenis ukiran yang mengandung makna magis.

Pulang Mandau
atau gagang terbuat dari Tanduk Kerbau atau Tanduk Bajang (Rusa) atau bisa juga menggunakan kayu kayamihing pada ujungnya di tanamkan rambut biasanya rambut yang digunakan adalah hasil dari Kayau atau hasil pemenggalan kepala.

Tempat memegangnya dihiasai dengan anyaman jangang atau rotan dan untuk merekatkan mandau pada pulangnya tersebut menggunakan gita sambun (getah dari kayu sambun). Biasanya pulang mandau berukiran bentuk naga atau buaya. Pada bagian pengait.
Kumpang Mandau atau sarung mandau biasanya terbuat dari kayu pilihan, dihiasi dengan tanduk rusa dan diberi hiasan anyaman Tempuser Undang terbuat dari rotan yang sudah di belah kecil kecil.

Disamping bagian dalamnya di beri sebuah sarung kecil yang dibuat dari bulu binatang atau kulit kayu sebagai tempat untuk menyimpan Langgei Puai (pisau kecil dengan gagang panjang untuk mengukir meraut kayu) lalu buat menyematkan di pinggang dibuatkan tali yang dibuat dari rotan.

Read More......

Tekla Tirah Liyah: In defense of Kalimantan women


In a remote riverside village in East Kalimantan, one woman is taking on tradition and a patriarchal culture in her struggle to improve the lot of local women.

It takes two days of sailing against the strong currents of Mahakam River to reach Mamahak Tebok village in Long Hubung district in West Kutai regency.
From this village, Tekla Tirah Liyah has, since 1997, been motivating women in the downstream riverside hamlets to fight against gender discrimination and injustice.
The 42-year-old is one of the few women in Kalimantan taking on the patriarchal culture in communities bound by customs.
Tekla, born to Dayak Bahau parents, has frequently proved her willingness to make sacrifices for her cause – not least that she is separated from her husband and children for weeks at a time. But she accepts such sacrifices and challenges as part of the life of an activist.
“Many important decisions involving rural people’s livelihood have come from men, with women playing no part and being subjected to rules that make it hard for them to become leaders,” Tekla says. The upshot of this is that “women have been victimized by such decisions”.
She points out that women were the first victims of the arrival of logging, oil palm plantations and coal and gold mining operations, but had been excluded from the decision-making process allowing such activities.
“The main problem confronting Kalimantan women is the deep-rooted patriarchal culture in all aspects of daily life, which results in gender discrimination, injustice and oppression,” she says.
“The prevailing economic system only turns women into a commodity for exploitation.”
While studying in Samarinda, Tekla, a law graduate of the city’s Widya Gama Mahakam University, realized that women had been subject to considerable injustice; she determined to oppose such discrimination, as it was unlikely the men would do anything on this front.
In 1997, she joined an NGO in Samarinda and chose to work in the downstream villages of the Mahakam River.
She has spent much time in the years since then in a traditional motorboat, cruising along the river and its tributaries to visit nearby hamlets, where she and her peers have informal discussions with local women and girls.
“We listen to their grievances, make them aware of their rights and suggest some alternative solutions,” says Tekla.
The discussions led to the creation of 11 collective business groups, with a total of 250 women as members. Their activities include growing vegetables, raising cattle and making handicrafts.
To make the most of their ideas, in mid-1999 Tekla and several fellow activists set up an NGO called the Perkumpulan Nurani Perempuan (Women’s Conscience Association).
Before founding this organization, women activists held a discussion where they shared their personal experiences in advocacy for community members in East Kalimantan. Through this discussion that realized that in many cases of a violation of communal rights, women’s interests were harmed the most.
“Many NGOs were operating in East Kalimantan in areas such as custom-based communities, human rights, environmental affairs and labor issues,” she says. “But none was dealing specifically with women’s rights.”
Among the issues Kalimantan women facing are the educational gap between men and women, the limited opportunities for women to assume leadership, high maternal mortality, human trafficking, women’s poor access to information, women’s low representation in politics, sociocultural conditions that diminish women’s quality of life and the increasing threat to women posed by mining operations and plantations.
The NGO’s activities include organizing village women, training community organizers, village administrators and communal heads, facilitating business ventures, motivating women, and providing guidance on running a farming business.
In late 2008, it facilitated the supply and plantation of 300,000 rubber trees in 10 villages in West and East Kutai. The project aimed to increase local incomes, restore former forest concession areas and maintain communal land.
But perhaps the NGO’s greatest achievement was the creation of a local financial institute called Petemai Urip Credit Union in April 2002, of which Tekla is executive chair.
As of March this year, the credit union had assets valued at a total of Rp 20 billion. Most notably, all its seven executives, nine of its 13 employees and 2,500 of its 3,500 members are women.
“We made no requirement that they had to be women, but the union’s male members seemed to be aware that the institute was set up and developed by women,” Tekla says.
Tekla is also on the executive board of the Kalimantan Credit Union Coordinating Body (BKCUK), which coordinates 54 credit unions across the country, with total assets of Rp 3.5 trillion and 500,000 members.
To achieve synergy in the Kalimantan women’s movement, Tekla and her peers in the island’s other three provinces organized the first Kalimantan Women’s Congress with 250 participants from different ethnic groups, religions and professions.
At the congress, held in Pontianak in late February, they shared and discussed their experiences and ideas for the development of the women’s movement in Kalimantan, as the first step to strengthen and unify their struggle against gender injustice, discrimination and oppression.
They ended the congress with an eight-point declaration, setting out the need for the consolidation of the women’s movement for peace and justice; advocacy for gender justice and mutual respect among groups; the need for government policies to guarantee justice for women and prevent conflict; free public services for women’s education and reproductive health; the guarantee of community management of resources; and building of women’s capacity to evaluate development programs.
Tekla said she hoped Kalimantan women would become more critical on a wide range of issues, such as the environment, trafficking of women and child, and public administration, and get involved in regional planning and budgets.
“Women should also be politically active, in general, or engaged in practical politics so their rights will not be ignored,” she says.

Sumber berita & foto: thejakartapost.com

Read More......