MANUHIR (Pengobatan Alternatif dari Dayak Ngaju)


Zelda Ewanggelion (4) menangis tak henti-hentinya ketika Dandel D. Pangkut (66) mengeluarkan darah dari ibu jarinya dengan menggunakan jarum kecil. Sebelumnya Dandel membacakan doa-doa kemudian menutup jalan darah yang keluar tadi dengan serpihan emas dan perak yang sudah disediakan Leani ibu dari Zelda. Setelah itu Dandel melanjutkan tampung tawar Zelda dengan menggunakan beras yang sudah dicelupkan ke dalam sebutir telur ayam kampung yang sudah dipecahkan terlebih dahulu.
Pengobatan alternatif yang dilakukan oleh Dandel ini sering disebut Manuhir oleh orang Dayak Ngaju. Bermula dari anak muda, sebut saja Tampung yang dapat “melihat” tanda darah “kotor” dari Zelda ketika bermain di depan rumah. Tampung menyampaikan kepada orang tua Zelda, darah itu harus dikeluarkan dengan cara Manuhir, kalau tidak dilakukan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, misalnya mati berdarah (baca kecelakaan), mati diterkam buaya atau mati tenggelam.
Manuhir adalah mengeluarkan darah kotor dari tubuh seseorang yang selalu mengancam kesehatan tubuh dan jiwa dari seseorang. Berasal dari kata “Tuhir” yang berarti mengiris, menyayat atau melukai. Tempat manuhir itu ada dibeberapa tempat, tergantung dari tempat darah kotor itu berada. Namun Dandel D. Pangkut (66) mengatakan bahwa ia mengambil filosofi dari kedua ujung jempol tangan untuk mengeluarkan darah. “Seperti anak bayi yang ada dalam kandungan ibunya dan mengisap jempol tangan itulah alasan saya menggunakan cara demikian, kehidupan manusia ada dipengaruhi oleh faktor luar, yaitu “roh jahat” yang bekerja dalam darah. Roh jahat ini memberikan tanda pada seseorang yang berciri pada tubuh orang tersebut. Penguasa luar (baca roh jahat) melihat tanda yang ada di dalam darah tubuh orang tersebut”, terang Dandel.
Manuhir diperlukan untuk mengeluarkan darah dari tubuh orang yang mau di obati, sehingga gangguan dan ancaman keluar dari tubuh orang tersebut. Kuasa Tuhan Yang Maha Esa digunakan untuk mengeluarkan darah tersebut dengan doa-doa khusus yang diucapkan pada seseorang yang mengobati tersebut. Firasat ini bisa dimulai dari bayi atau pada saat dewasa dapat muncul. Hal ini dapat muncul karena “pahuni”, sehingga ciri ini dimunculkan. “Kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mengetahui ciri ini, sehingga apabila ada orang yang dapat melihat ciri ini harus menyampaikannya kepada orang yang bersangkutan. Apabila ini tidak disampaikan maka bencana akan menimpa orang tersebut yang dapat melihat ciri namun tidak menyampaikannya”, jelas Dandel.
Akibat yang sering terjadi kalau darah tidak dikeluarkan, akan mengakibatkan mati berdarah, mati di makan buaya, mati tenggelam. Namun jaman sekarang karena jauh dari sungai sehingga wujud buaya berganti pada motor dan mobil, kebanyakan firasat yang ada sekarang adalah mati berdarah tutur pria yang sudah beruban ini.
Syarat-syarat yang harus dilengkapi yaitu, sebutir telur ayam kampung, sebuah jarum kecil, serpihan emas, serpihan perak, dan sejumlah uang digulung dan diletakkan di atas beras pada mangkok putih. Emas dan perak ini digunakan untuk menutup jalan keluar dari darah yang sudah dikeluarkan dari tubuh orang tersebut. Jarum digunakan untuk mengeluarkan darah dari ujung ibu jari dari orang yang diobati.
Sumber Dandel D.Pangkut (66) tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar